Jagung dan Rumput Laut Layak Diberi Kredit

Jagung dan Rumput Laut Layak Diberi Kredit

- detikFinance
Kamis, 18 Mei 2006 18:23 WIB
Jakarta - Perbankan di Sulawesi Utada dan Gorontalo selama ini masih fokus pada kredit konsumsi. Padahal sektor pangan termasuk jagung dan rumput laut tetap layak dibiayai. Jagung dan Rumput laut dinilai memiliki prospek untuk dibiayai oleh perbankan. "Pengembangan usaha tersebut dirasa sangat tepat karena kebutuhan akan produk jagung dan rumput laut terus meningkat, baik sebagai bahan makanan maupun ke depannya dapat digunakan sebagai bahan baku energi alternatif, khusus untuk jagung dan sebagai bahan obat-obatan khusus untuk rumput laut," jelas Joko Wardoyo, Pemimpin Bank Indonesia Manado.Hal itu disampaikan Joko dalam "Workshop Prospek Dunia Usaha dan Potensi Pembiayaannya oleh Perbankan" di Kantor Bank Indonesia Manado, Sulawesi Utara seperti dikutip dari situs BI, Kamis (18/5/2006).Dilihat dari indikator yang ada, perbankan di wilayah Sulawesi Utara dan Gorontalo memiliki perkembangan yang cukup baik. Hingga akhir triwulan I-2006, jumlah kredit yang berhasil disalurkan sebesar Rp 5,238 triliun atau meningkat 4,40% dibandingkan akhir tahun 2005. Sementara itu, Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 85,86%, di atas rata-rata LDR perbankan secara nasional. Namun demikian, penyaluran kredit perbankan di Sulawesi Utara dan Gorontalo tersebut masih terfokus pada kredit konsumsi. Pada triwulan I-2006, kredit konsumsi mencapai Rp 2.927 miliar (55,88%), kredit modal kerja Rp 1.879 miliar (35,87%) dan kredit investasi sebesar Rp 432 miliar (8,24%). Sedangkan apabila dilihat dari sektor penyalurannya, selain sektor konsumsi, penyaluran kredit terbesar terjadi di sektor perdagangan, restoran dan hotel, yaitu Rp 1.448 miliar atau 27,64%. Sektor pertanian sebesar Rp 218 miliar, dimana didalamnya mencakup penyaluran kredit pada sub sektor tanaman pangan (termasuk jagung) sebesar Rp 41 miliar dan sub sektor perikanan (termasuk rumput laut) sebesar Rp 80 miliar. "Industri perbankan tidak tertarik untuk menyalurkan kreditnya pada sektor-sektor tertentu bukan karena faktor risiko, namun lebih karena kurangnya pengetahuan mengenai sektor tersebut dan prospeknya," jelas Joko. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads