ADVERTISEMENT

Sederet PR Besar Buat Bos Baru OJK, dari Bumiputera Sampai Pinjol

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 11 Apr 2022 16:15 WIB
Ilustrasi Gedung Djuanda I dan Gedung Soemitro Djojohadikusumo
Foto: Grandyos Zafna

Dalam kesempatan yang sama peneliti INDEF Eisha M Rachbini menjelaskan saat ini kemajuan teknologi digital beserta dampak baik dan buruk tidak tersaring dengan baik.

Karena itu OJK harus meningkatkan literasi digital dan literasi keuangan masyarakat ke depan. "Itu jadi salah satu peran penting OJK saat ini. Tantangan lain adalah soal kewenangan antara OJK dan Bappebti dalam menangani kejahatan digital di sektor keuangan," jelas dia.

Menurut Eisha, masing-masing stakeholder harus duduk bersama untuk menyelesaikan masalah ini. Memang ada dua sisi mata uang terhadap perkembangan teknologi. Pertama, fintech berikan dampak bagus bagi perekonomian, misalnya kemudahan dalam permodalan bagi UMKM. Investasi masyarakat menjadi terbuka.

"Kedua, Perlu meningkatkan literasi keuangan masyarakat yang masih rendah yang hanya 38%. Dari 100 orang hanya 38 orang yang memiliki kemampuan literasi produk keuangan yang baik. Paham terhadap produk, manfaat dan risiko produk-produk keuangan," jelasnya.

Peneliti INDEF Izzuddin Al Faraz mengungkapkan kondisi ini merupakan dampak dari lemahnya literasi digital keuangan.

Seharusnya setiap perkembangan harus diimbangi dengan legal, learn dan logic. Legal terkait aspek hukum dan sahnya produk atau institusi fintech.

"Learn adalah aspek pemahaman di mana masyarakat harus lebih memahami produk keuangan digital, manfaat dan risiko produk keuangan," jelas dia.

Sementara logic adalah produk yang ditawarkan. Jika menjanjikan keuntungan dalam waktu singkat maka harus diwaspadai. Dibutuhkan riset atau pencarian informasi yang mendalam untuk berinvestasi.


(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT