Pendapatan Bunga Naik, Bank DKI Catat Laba Rp 198 M

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 22 Apr 2022 18:01 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

PT Bank Pembangunan Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta atau Bank DKI membukukan laba bersih Rp 198,01 miliar pada kuartal I/2022. Laba bersih tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang meningkat 13,5%, dari sebelumnya sebesar Rp 629 miliar pada kuartal I/2021 menjadi Rp 713 miliar pada kuartal pertama tahun ini.

Adapun pendapatan operasional sebelum pencadangan (pre-provisioning operating profit/PPOP) tercatat tumbuh sebesar 44,7% menjadi Rp 395 miliar pada kuartal I/2022.

Direktur Keuangan & Strategi Bank DKI Romy Wijayanto mengatakan membaiknya situasi pandemi Covid-19 telah mendorong pertumbuhan kinerja Bank DKI. Hal ini ditandai dengan penyaluran kredit Bank DKI yang tumbuh 13,7% menjadi Rp 38,3 triliun.

"Pertumbuhan kredit tersebut ditopang oleh penyaluran kredit pada sektor UMK [usaha mikro dan kecil] yang meningkat sebesar 26,1% dari Rp 1,4 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp 1,77 triliun pada kuartal I/2022," ujarnya dalam siaran pers, Jumat (22/4/2022).

/[

Romy menuturkan Bank DKI akan terus mendorong pemberdayaan UMKM di Jakarta dan sekitarnya melalui penyaluran kredit dan pembiayaan kepada pedagang UMKM JakPreneur serta pedagang BUMD Pangan, seperti Perumda Pasar Jaya, Food Station, Dharma Jaya.

Untuk segmen konsumer, juga mengalami pertumbuhan secara tahunan (year-on-year/yoy) sebesar 12,8% menjadi Rp 15,3 triliun pada kuartal I/2022. Selanjutnya, untuk segmen komersial mencapai Rp 14,45 triliun atau tumbuh 19,6%.

Adapun, pembiayaan di segmen syariah turut mengalami pertumbuhan sebesar 6,5 persen dari semula tercatat sebesar Rp 5,94 triliun pada kuartal I/2021 menjadi Rp 6,32 triliun pada periode yang sama tahun ini.

"Pertumbuhan kredit dan pembiayaan tersebut ditopang oleh peningkatan kapabilitas SDM di bidang kredit serta penyederhanaan proses bisnis melalui digitalisasi," kata Romy.