ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Penjelasan Bank soal Orang RI Makin Sulit Beli Rumah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 09 Jul 2022 15:15 WIB
Harga rumah secara nasional terus menunjukkan peningkatan mencapai 5,24% secara tahunan (year-on-year/yoy) per Maret 2021 sejalan dengan peningkatan permintaan hunian di masa pandemi. Hasil riset Housing Finance Center (HFC) milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. menunjukkan kenaikan harga rumah tersebut ditopang oleh pertumbuhan signifikan pada hunian tipe 70.
Ilustrasi/Foto: dok. BTN
Jakarta -

Harga lahan dan bahan baku untuk membangun rumah disebut terus naik. Kondisi ini juga turut mempengaruhi harga rumah dan kemampuan masyarakat dalam memiliki hunian.

Wakil Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) Nixon LP Napitupulu mengakui jika memang variabel yang mempengaruhi harga rumah saat ini sedang mengalami kenaikan.

Terutama untuk rumah-rumah non subsidi. "Untuk rumah non subsidi itu dominan pada harga lahan, bahan baku dan material. Tapi sebenarnya lahan 30%, untuk material itu yang sangat sensitif," kata dia di Menara BTN.

Nixon menjelaskan memang untuk harga rumah, kebijakan pemerintah terkait free PPN untuk pembelian rumah, turut menggerakkan setor perumahan.

"Jujur kita terima kasih dengan kebijakan PPN. Karena ini turut menggenjot penyaluran kredit rumah di bank," jelas dia.

Dia mengungkapkan saat ini memang backlog di perumahan mencapai 12,75 juta keluarga yang belum memiliki rumah. Kemudian ditambah rate KPR pe GDP paling rendah di ASEAN.

Menurut Nixon saat ini untuk suku bunga KPR memang relatif lebih rendah dibandingkan bunga KPR periode sebelumnya. Namun ke depan akan ada risiko kenaikan suku bunga dengan kondisi perekonomian di tengah tensi geopolitik saat ini.

Sebelumnya Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan kekurangan pasokan rumah saat ini mencapai 12,75 juta. Ini artinya masyarakat yang antre untuk memiliki rumah masih banyak, ditambah dengan adanya bonus demografi.

"Untuk yang berumah tangga artinya membutuhkan rumah, tapi mereka tidak punya purchasing power, harga rumah tinggi, sehingga mereka enak tinggal di rumah mertua atau menyewa," kata dia dalam webinar.

Dia menyebut, memang hal ini tidak salah. "Kalau mertuanya punya rumah juga, kalau nggak punya ya jadi masalah lagi. Menggulung generasi," jelas dia.

Sri Mulyani mengakui, dari sisi ketersediaan perumahan saat ini biaya untuk membangun rumah dan harga tanah selalu mengalami kenaikan, terutama di perkotaan. Namun dampak ganda yang ditimbulkan dalam pembangunan rumah ini sangat signifikan untuk produk domestik bruto (PDB).

Dia juga mengungkapkan jika suku bunga tinggi juga bisa menjadi ancaman untuk masyarakat yang ingin membeli rumah "Untuk membeli rumah 15 tahun mencicil di awal berat, suku bunga dulu, principal-nya di belakang. Itu karena dengan harga rumah tersebut dan interest rate sekarang harus diwaspadai karena cenderung naik dengan inflasi tinggi," kata dia.

Sri Mulyani mengungkapkan, kondisi ini dikhawatirkan bisa membuat masyarakat semakin sulit memiliki rumah. "Maka masyarakat akan makin sulit untuk membeli rumah," jelasnya.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT