ADVERTISEMENT

Terpopuler Sepekan

Wanti-wanti Sri Mulyani Orang RI Makin Sulit Punya Rumah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Sabtu, 09 Jul 2022 13:45 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Masyarakat disebut makin sulit memiliki hunian. Hal ini karena suku bunga di sejumlah negara mulai naik untuk mengimbangi angka inflasi.

Nah dari suku bunga ini maka akan mempengaruhi suku bunga di sektor perumahan. Seperti bunga kredit pemilikan rumah (KPR) maka akan membuat sulit masyarakat.

Karena itu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati meminta masyarakat untuk waspada dengan kenaikan suku bunga ini.

"Untuk membeli rumah 15 tahun mencicil di awal berat, suku bunga dulu, principal-nya di belakang. Itu karena dengan harga rumah tersebut dan interest rate sekarang harus diwaspadai karena cenderung naik dengan inflasi tinggi," kata dia.

Jika masyarakat sulit memiliki rumah, maka hal ini juga akan berdampak pada sektor perumahan di dalam negeri. Karena itu, pemerintah berupaya untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) agar bisa memiliki rumah.

Direktur Celios Bhima Yudhistira mengungkapkan tingginya inflasi akan berdampak ke potensi kenaikan bunga acuan Bank Indonesia (BI). Dengan naiknya bunga acuan, maka bunga KPR juga akan terkerek.

"Kenaikan bunga KPR khususnya bunga floating akan menjadi pertimbangan debitur untuk membeli rumah," jelas dia.

Dikutip dari publikasi Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang diterbitkan oleh BI, suku bunga KPR di perbankan Indonesia sejak akhir 2020 turun, tapi tak sampai 1%.

Bunga KPR akhir 2020 dan awal 2021 di kisaran 8,5%, periode akhir 2021 8,2% , dan periode Maret 8,11%. Masih tingginya bunga KPR menjadi penyebab terbatasnya penjualan rumah di Indonesia. Sekitar 11,7% responden menyatakan bunga KPR jadi penyebab enggan membeli rumah.

Pada kuartal I-2022 nilai KPR dan KPA secara tahunan naik 10,61% lebih tinggi dibandingkan periode kuartal sebelumnya sebesar 9,76%. Dari sisi konsumen, pembiayaan perbankan dengan fasilitas KPR masih menjadi pilihan utama konsumen dalam pembelian properti residensial dengan pangsa 69,54% dari total pembiayaan, diikuti oleh tunai bertahap sebanyak 21,79% dan secara tunai 8,67%.

(kil/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT