Nasabah Curang Pun Menyesal Utang di Pinjol: Duit Setan Dimakan Setan!

ADVERTISEMENT

Liputan Khusus

Nasabah Curang Pun Menyesal Utang di Pinjol: Duit Setan Dimakan Setan!

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 24 Jul 2022 13:30 WIB
Memutus Rantai Jebakan Pinjol Ilegal
Foto: detik
Jakarta -

Fintech peer to peer (P2P) lending alias pinjaman online (pinjol) jadi salah satu cara mendapatkan dana segar. Terlepas dari semua kemudahan yang ditawarkan, mungkin banyak yang menyesal telah mengenalnya karena bunga terlalu mencekik.

Pinjol memang memiliki tingkat suku bunga lebih tinggi dan tenor cicilan lebih ringkas dibanding pinjaman konvensional. Hal ini membuat debiturnya tidak jarang terjebak jeratan utang hingga tak mampu membayar cicilan.

Penyesalan datang dari Wawa (bukan nama sebenarnya) yang kini terjerat utang di banyak pinjol. Kemudahan dan kecepatan meminjam uang di pinjol membuatnya kalap asal klik nominal yang ia mau, tanpa berpikir panjang bagaimana cara melunasinya.

"Satu hari bisa beberapa pinjol. Orang modal foto-foto doang, diklik-klikin aja semua yang ada, aku download-downloadin. Iseng-iseng nih di Indodana (pinjam) Rp 5 juta main klik-klik aja, tau-tau ngecek mutasi rekening nggak sampai 5 menit sudah masuk," kata ibu 2 anak berusia 36 tahun itu saat berbincang dengan detikcom, Kamis (21/7/2022).

Wawa mengaku menyesal telah berutang di banyak pinjol. Selain risiko yang dialami yakni dikejar-kejar debt collector, uang dari hasil pinjaman itu tidak berbentuk karena hanya untuk gali lubang tutup lubang alias berutang buat menutupi utang di pinjol lainnya.

"Duitnya duit setan dimakan setan, benar-benar nggak berbentuk," ujarnya dengan raut kesal dan menyesal.

Selain buat bayar utang lagi, uang dari hasil pinjol juga diakui untuk memenuhi gaya hidup seperti membeli handphone (HP). Awal meminjam tentu untuk memenuhi keperluan rumah tangga saat ekonomi terdampak pandemi COVID-19.

"Barang yang tersisa HP doang, selebihnya nggak ada karena duitnya buat diputar-putar doang, sama buat biaya hidup dah, hari itu kaya, besok melarat lagi," ujarnya sambil tertawa.

Saking banyaknya pinjol yang digunakan dan tidak beres pembayarannya, kini Wawa tidak bisa lagi meminjam di lembaga keuangan resmi karena identitasnya telah masuk 'daftar hitam'. Dia mengaku kapok berutang lagi di pinjol karena capek main kucing-kucingan dengan debt collector.

"Sekarang KTP aku sudah nggak bisa buat pinjaman karena nama sudah jelek. Masih bisa pinjam tapi di pinjol ilegal, tapi aku sudah nggak mau karena males ganti email lagi, males ganti nomor lagi, sudah capek," imbuhnya.

Penyesalan juga datang dari Sasa (33) yang senasib terjerat utang di pinjol. Single parent dua anak itu mulai berutang di pinjol sejak 2020 karena penghasilannya sebagai Multi Level Marketing (MLM) di bidang produk kecantikan menurun drastis akibat dampak pandemi COVID-19.

Kini Sasa memilih 'sengaja' terjerat utang di pinjol karena jumlah utang sudah terlalu banyak dan tak mampu melunasinya. Akibatnya yang harus ditanggung kini adalah tidak bisa lagi meminjam di lembaga keuangan lainnya.

"Ya nyesel kenapa gua harus pinjam, harusnya data gua bagus jadi jelek. Tapi sudahlah nasi sudah jadi bubur, dari situ cuma ambil hikmahnya aja sih," ucapnya yang tak mau terlalu ambil pusing.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT