ADVERTISEMENT

Perang Rusia & Ukraina Masih Lanjut, Sistem Keuangan RI Bisa Terguncang?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 01 Agu 2022 19:45 WIB
Close-up of hand entering PIN/pass code for a money transfer, on a ATM/bank machine keypad outside
Foto: Getty Images/iStockphoto/PKpix
Jakarta -

Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mengumumkan SSK saat ini berada dalam kondisi yang masih terjaga.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati sekaligus ketua KSSK mengungkapkan jika kondisi ini masih baik di tengah tekanan perekonomian global yang meningkat, sebagai akibat berlanjutnya perang di Ukraina. Selain itu inflasi global juga masih jadi tekanan, serta respons pengetatan kebijakan moneter global yang lebih agresif.

Dia menjelaskan pertumbuhan ekonomi global diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, disertai meningkatnya risiko stagflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Tekanan inflasi global terus meningkat seiring dengan tingginya harga komoditas akibat berlanjutnya gangguan rantai pasokan. Selain itu diperparah oleh berlanjutnya perang di Ukraina, serta meluasnya kebijakan proteksionisme, terutama pangan.

Berbagai negara, terutama Amerika Serikat (AS) merespons peningkatan inflasi tersebut dengan pengetatan kebijakan moneter yang lebih agresif sehingga menahan pemulihan ekonomi dan meningkatkan risiko stagflasi.

Pertumbuhan ekonomi berbagai negara, seperti AS, Eropa, Jepang, China, dan India, diprakirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, yang disertai dengan meningkatnya kekhawatiran resesi di AS.

Bank Dunia dan IMF merevisi ke bawah proyeksi pertumbuhan global tahun 2022, masing-masing dari 4,1% menjadi 2,9% dan dari 3,6% menjadi 3,2%.

Meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global mengakibatkan aliran keluar modal asing, khususnya investasi portofolio, dan menekan nilai tukar di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.

Realisasi Pendapatan Negara hingga akhir Juni 2022 mencapai Rp1.317,2 triliun atau 58,1% dari target APBN (Perpres 98/2022), tumbuh 48,5% (yoy).

Kinerja Pendapatan Negara didukung oleh pemulihan aktivitas ekonomi yang semakin menguat, kenaikan harga komoditas, serta perbaikan kebijakan dan administrasi perpajakan. Realisasi Belanja Negara mencapai Rp 1.243,6 triliun atau 40% dari pagu yang terdiri dari realisasi Belanja Pemerintah Pusat sebesar Rp 876,5 triliun (38,1% dari pagu) dan Transfer ke Daerah dan Dana Desa mencapai Rp 367,1 triliun (45,6% dari pagu).

Belanja Negara tetap dioptimalkan untuk menopang tren pemulihan agar tetap berlanjut dan semakin menguat. Dengan perkembangan tersebut, APBN mencatatkan surplus Rp 73,6 triliun atau 0,39% terhadap PDB.

Lanjut ke halaman berikutnya.



Simak Video "Tantangan Putin ke Negara Barat untuk Kalahkan Rusia di Medan Perang!"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT