ADVERTISEMENT

Kenapa Bank Kasih Bunga Tinggi kalau Ada yang Pinjam Duit?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 13 Sep 2022 08:00 WIB
Ilustrasi kredit mobil
Ternyata Ini Alasan Bank Kasih Bunga Tinggi kalau Ada yang Pinjam Duit/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ketika meminjam uang di bank, biasanya masyarakat akan dikenakan bunga yang tinggi. Meskipun sekarang bunga simpanan sudah terbilang rendah. Tapi bunga kredit masih tinggi. Kenapa bank kasih bunga tinggi kalau ada yang pinjam uang?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menjelaskan saat ini terjadi anomali pada sistem keuangan Indonesia. Dia menjelaskan suku bunga di bank yang diberlakukan kepada nasabah sangat beragam. Sehingga besaran bunga akan berbeda untuk setiap orang, tak bisa disamaratakan.

"Jadi setiap orang bunganya akan berbeda ada yang tinggi dan sedikit lebih rendah," kata Piter saat dihubungi, Senin (12/9/2022).

Perbedaan juga tergantung dari jenis simpanan, produk maupun jenis kredit. Selain itu juga akan terlihat bedanya antara bank besar dan bank yang kecil. Menurut Piter, saat ini di bank besar suku bunga yang diberikan untuk simpanan sangat kecil. Karena bank besar cenderung punya bargain position yang besar.

"Mereka merasa likuiditas masih cukup, karena periode kemarin likuiditas masih berkumpul di bank besar. Apalagi bank juga pusing menyalurkan, jadi mereka ke SBN dan selama pandemi belum menyalurkan kredit dan sekarang juga belum normal," jelasnya.

Sehingga likuiditas yang ada sekarang ini masih cukup, jadi ketika suku bunga naik, bunga simpanan dipertahankan selama mungkin. Justru yang dinaikkan adalah suku bunga kredit secara perlahan.

Direktur CELIOS Bhima Yudhistira Adhinegara mengungkapkan jika saat ini di Indonesia mengalami fenomena sulit turunnya bunga kredit. Menurut dia hal ini terjadi karena ada beberapa faktor salah satunya teori interest rate rigidity.

"Jadi ketika BI beberapa tahun terakhir melakukan penurunan bunga acuan, itu respons suku bunga kredit perbankan sangat lambat," kata dia.

Dia menyebutkan interest rate rigidity ini artinya ada kekakuan dari perbankan untuk mengikuti arah dari penurunan suku bunga acuan.

Bhima menjelaskan yang lebih krusial lagi, bank memperhatikan beban operasional terutama bank bank buku II atau I yang modalnya kecil. Selain itu, bank saat ini masih melihat tingkat risiko bank dengan kompensasi bunga kredit yang mahal. Hal ini karena ada kekhawatiran paska-restrukturisasi akan terjadi kenaikan risiko kredit macet seperti NPL.

Lihat juga video 'Cerita Agen Bank di Ujung Negeri, Raup Penghasilan hingga Puluhan Juta Perbulan':

[Gambas:Video 20detik]



(kil/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT