ADVERTISEMENT

Alasan BI Kerek Bunga Acuan Sampai 0,5%

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 22 Sep 2022 15:40 WIB
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menurunkan lagi suku bunga acuannya. Kini BI 7 Days Repo Rate turun jadi 5,5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk menaikkan BI 7days reverse repo rate sebesar 50 bps atau 0,5% menjadi 4,25%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan BI juga menaikkan Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 3,5% dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 5%/

Perry menyebutkan kenaikan bunga ini sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking.

"Hal ini untuk menurunkan ekspektasi inflasi memastikan inflasi inti kembali ke sasaran 3,0±1% pada paruh kedua 2023, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat," kata Perry dalam konferensi pers, Kamis (22/9/2022).

Kenaikan inflasi ini terjadi karena adanya pengaruh dari penyesuaian harga BBM subsidi. Sehingga pemerintah mengalihkan tambahan subsidi ke bantuan sosial.

Dia menjelaskan harga Pertalite dan Solar juga akan berdampak ke tarif angkutan. Selain itu second round impact juga akan terasa ke barang lain.

"Penelitian BI menunjukkan dampak second round berlangsung selama 3 bulan. Karena bulan ini kemungkinan inflasi meningkat. Sesuai survei pemantauan harga (SPH) bulan ini inflasi akan naik jadi 5,89%. Pada bulan depan dampak langsung dari penyesuaian harga subsidi dan tarif angkutan," jelasnya.

Dia menjelaskan bank sentral juga terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi sebagai berikut:

- Memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR tersebut untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasarannya.
- Memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai bagian untuk pengendalian inflasi dengan intervensi di pasar valas baik melalui transaksi spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian/penjualan Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
- Melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder (operation twist) untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya investasi portofolio asing melalui kenaikan yield SBN tenor jangka pendek sejalan dengan kenaikan suku bunga BI7DRR dan kenaikan struktur yield SBN jangka panjang yang lebih rendah, dengan pertimbangan tekanan inflasi lebih bersifat jangka pendek dan akan menurun kembali ke sasarannya dalam jangka menengah panjang.
- Melanjutkan kebijakan transparansi suku bunga dasar kredit (SBDK) dengan pendalaman pada aspek profitabilitas bank.
- Mendorong percepatan dan perluasan implementasi digitalisasi pembayaran di daerah melalui pemanfaatan momentum pelaksanaan dan penetapan pemenang Championship Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (P2DD).
- Mendorong akselerasi pencapaian QRIS 15 juta pengguna dan peningkatan penggunaan BI-FAST dalam transaksi pembayaran.



Simak Video "Dear Warga Bandung, Berikut 2 Lokasi Penukaran Uang Baru Emisi 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT