ADVERTISEMENT

Hampir Mirip, Ini Bedanya Pay Later dan Kartu Kredit

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 30 Sep 2022 17:28 WIB
Ilustrasi PayLater
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Beberapa tahun terakhir kredit dengan sistem Buy Now, Pay Later (BNPL) atau yang lebih dikenal dengan Pay Later kini terus berkembang di Asia Tenggara. Hal ini diimbangi dengan besarnya permintaan akan sistem pebayaran dan didukung oleh kinerja e-commerce yang makin naik di Indonesia.

Pada kuartal I 2022 tercatat Rp 108,54 triliun atau naik 23% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Berdasarkan data dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2019, indeks inklusi keuangan di Indonesia cukup besar sekitar 76,19%, namun indeks kemajuan literasi keuangannya masih berkisar 38,03%.

Karena itu penyelenggara Pay Later di Indonesia harus berkomitmen untuk mengedepankan literasi keuangan sebagai salah satu langkah untuk dapat menjangkau lebih banyak masyarakat menikmati kemudahan layanan BNPL dan juga keuntungannya.

Hal ini seperti yang dilakukan Atome yang kini telah memiliki lebih dari 5 juta pengguna yang tersebar di seluruh Indonesia dengan ekosistem yang cukup besar.

Pengguna Atome dapat bertransaksi di lebih dari 600 merchant dan lebih dari 7,700 toko atau outlet baik secara offline ataupun online. General Manager Atome Winardi Wijaya menjelaskan saat ini masih banyak masyarakat yang memiliki perspektif terkait sistem BNPL disamakan dengan sistem cicilan kredit.

"Padahal sistem BNPL sendiri menjadi salah satu opsi terbaik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sambil memaksimalkan manajemen keuangan yang mereka miliki. Atome merealisasikan kebutuhan hidup ini namun dengan tetap menjaga agar mereka memiliki pembukuan keuangan yang stabil," kata dia dalam keterangannya, ditulis Jumat (30/9/2022).

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT