OJK Sebut Kemunculan Crazy Rich Muda Bikin Resah, Ada Apa Nih?

ADVERTISEMENT

OJK Sebut Kemunculan Crazy Rich Muda Bikin Resah, Ada Apa Nih?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 10 Okt 2022 14:17 WIB
Dirut KSEI Friderica Widyasari
Anggota Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari/Foto: Agung Pambudhy/detikFoto
Jakarta -

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan fenomena crazy rich muda saat ini meresahkan. Pasalnya anak-anak muda yang disebut memiliki harta berlimpah ini memberikan pengaruh kepada anak-anak muda lainnya yang belum memahami keuangan.

Anggota Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari mengungkapkan jika, crazy rich muda itu biasanya menawarkan investasi-investasi yang memberikan keuntungan besar.

"Seperti pernah ada fenomena crazy rich-crazy rich itu, mereka di-endorse (produk investasi). Masyarakat yang melihat, oh kita ikut yuk investasi ini (yang digunakan crazy rich muda)," kata wanita yang akrab disapa Kiki dalam konferensi pers, Senin (10/10/2022).

Dia mengungkapkan dibutuhkan edukasi dan literasi keuangan yang gencar dari industri keuangan. Hal ini agar pengetahuan soal keuangan dan pemahaman investasi bisa lebih luas serta masyarakat tak lagi mudah termakan dengan rayuan para influencer.

Kiki menambahkan edukasi ini juga perlu agar kepercayaan masyarakat semakin berkembang di masyarakat. "Pentingnya isu perlindungan konsumen dalam mendukung pencapaian stabilitas sistem keuangan karena itu perlindungan konsumen harus dijaga," ujar dia.

Beberapa waktu terakhir memang heboh crazy rich seperti Indra Kenz yang disebut menggunakan investasi bodong aplikasi trading binary option Binomo. Selain itu juga ada Doni Salmanan yang juga terlibat dalam kasus tersebut.

Keduanya merupakan orang yang terkenal dengan harta kekayaan yang berlimpah. Banyak pengikut sosial media mereka yang terpengaruh dengan investasi bodong yang ditawarkan. OJK menyebut dibutuhkan digital trust system untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap industri keuangan digital.

Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan untuk membangun digital trust menjadi sangat fundamental mengingat meningkatkatnya berbagai risiko seiring dengan semakin terdigitalisasinya seluruh aktivitas masyarakat.

"Selain untuk memitigasi risiko, pengembangan digital trust juga penting untuk meningkatkan keyakinan konsumen, memanfaatkan layanan dan produk keuangan digital yang meyakinkan konsumen bahwa aset, data, dan privasinya terjaga dengan aman," kata Mahendra.

Ketua Dewan Pengawas Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) Rudiantara menekankan hal-hal yang harus menjadi pertimbangan dalam membangun digital trust system.

"Seluruh elemen ekosistem keuangan digital perlu mempertimbangkan penempatan investasi mereka untuk meningkatkan digital trust. Selain itu, penting untuk dicatat bahwa dalam membangun digital trust harus melibatkan pendekatan interdisipliner di seluruh aspek yang meliputi sumber daya manusia, proses bisnis, tata kelola, dan regulasi, dengan teknologi sebagai pendukung utama," kata Rudiantara.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT