Pertermuan G20 di AS Bahas Mata Uang Digital, Bakal Diakui?

ADVERTISEMENT

Pertermuan G20 di AS Bahas Mata Uang Digital, Bakal Diakui?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 14 Okt 2022 09:53 WIB
Presidensi G20 di Bali
Foto: Dok. Bank Indonesia
Jakarta -

Negara-negara anggota G20 berkomitmen untuk terus mengeksplorasi Mata Uang Digital Bank Sentral (CBDC). Hal ini karena CBDC disebut bisa memfasilitasi pembayaran lintas batas sambil menjaga stabilitas sistem moneter dan keuangan nasional.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menjelaskan negara anggota G20 terus berkomitmen untuk memajukan implementasi Peta Jalan G20 pada Pembayaran Lintas Batas Negara (CBP).

"Untuk mencapai pembayaran lintas batas yang lebih cepat, murah, transparan, dan inklusif karena hal ini akan memberikan manfaat yang luas bagi ekonomi di seluruh dunia," kata dia dalam konferensi pers hasil Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) Ke-4 di Washington DC, Jumat (14/10/2022)., ditulis Jumat (14/10/2022).

Dia juga menjelaskan G20 membahas potensi uang digital dan perancangannya untuk memfasilitasi pembayaran lintas batas. Di saat yang sama menjaga stabilitas dan integritas sistem moneter dan keuangan internasional.

"Dalam konteks ini, G20 menyambut baik diskusi lanjutan tentang sistem pembayaran yang saling terkait dan opsi akses dan interoperabilitas CBDC untuk pembayaran lintas batas," jelas dia.

Hal ini sebagai wujud implementasi regional dai Peta Jalan G20 pada Pembayaran Lintas Batas Negara, bank sentral pada ASEAN-5 akan menandatangani Perjanjian Umum pada Konektivitas Pembayaran di antara Bank Sentral ASEAN-5 di sela-sela KTT Leaders' Summit pada November 2022 mendatang.

Selama pandemi, lembaga keuangan telah menerapkan berbagai kebijakan luar biasa untuk meningkatkan fungsinya sebagai intermediasi dalam mendukung perekonomian.

Di saat dukungan kebijakan diperlukan untuk memitigasi dampak negatif dari pandemi, penerapan dukungan kebijakan yang terlalu lama dapat menimbulkan risiko terhadap stabilitas keuangan.

Saat ini pemulihan ekonomi dari pandemi sedang berlangsung, G20 menantikan laporan akhir exit strategies dan mitigasi scarring effect pada sector keuangan, serta upaya untuk mengatasi kerentanan di Lembaga Keuangan Non-Bank (NBFI). Selain itu, G20 terus memperkuat sektor keuangan global melalui peningkatan pemantauan risiko dan melalui optimalisasi manfaat teknologi dan digitalisasi.

Dalam konteks ini, G20 menyambut baik penilaian FSB mengenai pengawasan dan regulasi 'stablecoin' global, serta aktivitas pasar asset kripto dan menerima panduan akhir oleh BIS CPMI dan IOSCO yang menegaskan bahwa Prinsip untuk Infrastruktur Pasar Keuangan berlaku dalam pentingnya pengaturan stablecoin yang sistemastis.

Selain itu G20 juga menyambut baik keberhasilan penyelesaian Techsprint G20 2022, inisiatif bersama antara Presidensi G20 Indonesia dngan BIS Innovation Hub yang telah berkontribusi pada diskusi tentang solusi praktis dan layak untuk menerapkan CBDC.

G20 telah mengumumkan pemenang untuk tiga kategori dan menghadiahkan Rp 770 juta bagi setiap pemenang pada G20 Techsprint 2022 Award Ceremony dan Third CBDC Seminar yang diadakan secara back-to-back dengan acara 2022 Annual Meetings of the International Monetary Fund dan World Bank Group.

(kil/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT