BI Sudah Naikkan Bunga Acuan Jadi 4,25%, Demi Apa Sih?

ADVERTISEMENT

BI Sudah Naikkan Bunga Acuan Jadi 4,25%, Demi Apa Sih?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2022 14:32 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Kantor BI/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Untuk menjaga stabilitas dan momentum pemulihan ekonomi nasional, Bank Indonesia (BI) menempuh berbagai bauran kebijakan. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan hal ini sejalan dengan arah kebijakan tersebut, sejak Agustus 2022, BI telah menaikkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 125 bps menjadi 4,75%.

"Keputusan ini sebagai langkah front loaded, pre-emptive, dan forward looking untuk menurunkan ekspektasi inflasi yang saat ini terlalu tinggi dan memastikan inflasi inti kembali ke dalam sasaran 3,0±1% lebih awal yaitu ke paruh pertama 2023," kata dia dalam konferensi pers KSSK, Kamis (3/11/2022).

Dia mengungkapkan ini juga untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamentalnya akibat semakin kuatnya mata uang dolar AS dan tingginya ketidakpastian pasar keuangan global, di tengah peningkatan permintaan ekonomi domestik yang tetap kuat.

Selanjutnya bank sentral juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah (pusat dan daerah) dan instansi terkait melalui Tim Pengendalian Inflasi (TPIP dan TPID) melalui peningkatan nilai tambah Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah dalam mendorong ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, kestabilan harga, dan komunikasi efektif.

Selain itu, menurut dia BI juga memperkuat operasi moneter melalui kenaikan struktur suku bunga di pasar uang sesuai dengan kenaikan suku bunga BI7DRR tersebut untuk menurunkan ekspektasi inflasi dan memastikan inflasi inti kembali ke sasaran lebih awal.

Kemudian BI juga melanjutkan penjualan/pembelian SBN di pasar sekunder. "Ini untuk memperkuat transmisi kenaikan BI7DRR dalam meningkatkan daya tarik imbal hasil SBN bagi masuknya investor portofolio asing guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah," ujarnya.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT