ADVERTISEMENT

Peringatan Bos BI soal Era Bunga Tinggi Bakal Lama

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 22 Nov 2022 06:45 WIB
Gubernur BI Perry Warjiyo
Foto: Gubernur BI Perry Warjiyo (Sylke Febrina Laucereno/detikcom)
Jakarta -

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengingatkan bahwa arah suku bunga acuan dengan level tinggi akan berlangsung lama. Hal ini dikarenakan kenaikan Fed Fund Rate (FFR) yang diperkirakan terjadi hingga 2023 dengan siklus lebih panjang.

"Higher interest for longer, suku bunga yang tinggi dan akan berlangsung lama," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (21/11/2022).

Di Amerika Serikat (AS), kenaikan FFR pada bulan ini sebesar 75 basis point (bps) menjadi 4%. Perry menyebut kemungkinan pada Desember 2022 akan naik lagi 50 bps.

"Kami perkirakan tahun depan juga masih akan menaikkan kembali dari 4,5% menjadi 5%. Ada yang memperkirakan hingga 5,25% dan puncaknya mungkin triwulan I dan II (2023) dan tidak akan segera turun. Inilah high interest rate for longer," jelas Perry.

Eropa Central Bank (ECB), kata Perry, juga terus menaikkan suku bunga. Demikian juga kenaikan suku bunga acuan dilakukan oleh otoritas moneter di Inggris.

Dengan kenaikan suku bunga acuan di banyak negara maju, Perry menyebut belum tentu inflasi akan menurun. Pasalnya inflasi terjadi dari sisi supply energi dan pangan.

"Sehingga kejar-kejaran antara menaikkan suku bunga dan inflasi yang tinggi. Ini lah yang sering disebut risiko stagflasi, pertumbuhan yang stagnan menurun dan inflasi yang tinggi," tutur Perry.

Akibat itu saat ini muncul istilah resflasi, yakni risiko resesi dan tingginya inflasi. "Sekarang istilahnya adalah resflasi, risiko resesi dan tinggi inflasi," tandasnya.



Simak Video "Meraup Jutaan Rupiah dari Budidaya Anggrek"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT