ADVERTISEMENT

Mahasiswa IPB Ketipu Pinjol Berjamaah, OJK Buka Suara

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 22 Nov 2022 18:15 WIB
Pinjaman online abal-abal
Foto: Pinjaman online abal-abal (Fauzan Kamil/detikcom)
Jakarta -

Sebanyak 116 mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menjadi korban penipuan berkedok pinjaman online (pinjol).

Anggota Dewan Komisioner OJK Bidang Perlindungan Konsumen Friderica Widyasari Dewi mengungkapkan kasus tersebut sangat menarik perhatian.

Pasalnya banyak yang mengira dari kalangan akademisi pintar dan tidak akan kena modus penipuan. "Ternyata tidak juga," kata dia dalam konferensi pers, Selasa (22/11/2022).

Dia mengungkapkan memang saat ini tak semua mahasiswa mempelajari tentang keuangan. Karena itu kasus ini membuat OJK harus lebih gencar melakukan edukasi kepada masyarakat dan mahasiswa.

"Jadi tidak cuma mahasiswa fakultas ekonomi bisnis, teknik atau teknik nuklir. Semua orang perlu memiliki keterampilan pengelolaan keuangan," ujar dia.

Menurut dia Satgas Waspada Investasi sudah turun tangan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Selain itu juga telah dikoordinasikan dengan pengawas IKNB karena adanya entitas yang terkait dengan pinjaman online ini.

"Kita upayakan ada negosiasi dengan entitas ini, mungkin ada diskusi lebih lanjut dan diberikan keringanan waktunya. Karena yang jadi korban harus tetap mengembalikan," ujar dia.

Sebelumnya Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing mengungkapkan memang satgas berkoordinasi dengan 4 penyedia platform. Tongam menyebut SWI mengusulkan agar mahasiswa IPB yang menjadi korban penipuan bisa dibantu untuk proses penyelesaiannya.

"Tapi tergantung kebijakan platform. Satgas akan menjembatani pengumpulan data agar mahasiswa yang jadi korban bisa menyampaikan data-data hingga Rabu jam 12 siang nanti. Sudah disampaikan link yang berisi formulir," ujar dia.

Tongam mengungkapkan, dari data-data tersebut akan dikompilasi dan platform akan memberikan keputusan secara individual.

Dia menambahkan bantuan ini bisa berpa relaksasi, restrukturisasi atau reschedjuling. Tongam menjelaskan hal ini dilakukan agar para mahasiswa tidak masuk dalam daftar hitam di sistem layanan informasi keuangan (SLIK).

Bantuan ini diharapkan bisa memberikan rasa aman dan tenang kepada mahasiswa yang menjadi korban. Sehingga tidak memikirkan masalah yang sedang menimpa mereka.

(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT