RI Bakal Punya Rupiah Digital, Apa Bedanya dengan Uang Tunai & Kripto?

ADVERTISEMENT

RI Bakal Punya Rupiah Digital, Apa Bedanya dengan Uang Tunai & Kripto?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 05 Des 2022 13:13 WIB
Indonesian Rupiah - official currency of Indonesia
RI Bakal Punya Rupiah Digital, Apa Bedanya dengan Uang Tunai & Kripto?/Foto: Getty Images/iStockphoto/Yoyochow23
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) akan meluncurkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau Rupiah Digital. Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan perbedaan Rupiah Digital dengan alat transaksi lainnya.

Perry menjelaskan, fungsi Rupiah Digital sama dengan uang yang selama ini beredar, yaitu sebagai alat pembayaran. Namun sesuai dengan namanya, Rupiah Digital berbentuk digital sementara uang kartal berbentuk fisik.

"Digital rupiah prinsipnya sama dengan alat pembayaran yang ini (uang kertas), sama. Bedanya yang ini dalam bentuknya uang kertas yang itu bentuknya digital," ujarnya dalam acara BIRAMA : Meniti Jalan Menuju Rupiah Digital di Gedung BI, Jakarta Pusat, Senin (5/12/2022).

Rupiah digital juga memuat fitur-fitur yang terdapat pada rupiah kertas, seperti gambar pahlawan, kesenian, kekayaan alam, hingga tokoh pahlawan. Menurut Perry, semuanya dikemas dalam bentuk kode yang sudah terenkripsi.

"Fitur-fitur yang ada di sini, Bung Karno, Bung Hatta juga ada di Digital Rupiah,Bedanya kalau di dalam Rupiah Digital, semuanya terenkripsi dalam digital coding-coding," jelasnya.

Perry memaparkan tiga fungsi Rupiah Digital, pertama adalah sebagai alat pembayaran yang sah atau medium of exchange, kedua sebagai unit of account, dan ketiga adalah sebagai alat penyimpan nilai atau store of value.

Sementara itu, Asisten Gubernur Bank Indonesia/Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Filianingsih Hendarta mengungkap beda Rupiah Digital dengan mata uang kripto. Ia menyebut kripto berbentuk aset, sedangkan Rupiah Digital merupakan alat pembayaran.

"Yang satunya kan currency, satunya (kripto) aset digital," singkatnya.

Perry menambahkan, Rupiah Digital menjadi satu-satunya alat transaksi yang sah. Sementara yang lainnya disebutnya tidak sah.

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Josua Pardede meluruskan salah paham di masyarakat yang menyamakan kripto dengan Rupiah Digital.

"Banyak yang menyamakan dengan aset kripto. Padahal ini kan rupiah kita, alat tukar pembayaran yang sah," pungkasnya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT