Kredit Macet Masih Jadi Momok Intermediasi Perbankan
Rabu, 22 Nov 2006 13:42 WIB
Jakarta - Bayang-bayang kredit macet masih akan menggelayuti fungsi intermediasi perbankan ke sektor riil pada tahun 2007. Karenanya, Bank Indonesia (BI) berharap perbankan fokus untuk menyelesaikan kredit macet agar fungsi intermediasi segera bangun tanpa dihantui mimpi buruk kredit macet. Hal tersebut disampaikan Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom dalam pemaparan dalam acara 'Economic Outlook 2007' di Hotel Borobudur, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Rabu (22/11/2006)."Tapi kalau Keppresnya sudah keluar dan penyelesaian NPL tidak ada, maka kemungkinan untuk tidak terjadinya intermediasi masih bisa terjadi," ujarnya.Miranda menjelaskan, rendahnya kucuran kredit karena dibayangi kemacetan akan menyebabkan tumpukan likuiditas. Dan pada akhirnya, tumpukan likuiditas itu akan mampir ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI). "Itu menimbulkan dilema karena BI tetap harus menyerap kelebihan likuiditas dari pasar. Dan itu tentunya dilihat sebagai sesuatu yang kurang menyenangkan," katanya.Penumpukan dana di SBI oleh perbankan itu antara lain dilakukan oleh Bank Pembangunan Daerah (BPD). Namun berdasarkan data BI, angkanya sudah berkurang hingga Rp 5,5 triliun, atau dari Rp 49 triliun di awal November menjadi Rp 43,8 triliun pada pertengahan November."Kepemilikan SBI masih tetap tinggi. Dan kita tetap tidak suka karena kita ingin likuiditas itu dipakai untuk hal yang produktif, bukan disimpan di SBI," tegas Miranda.Ke depan, BI melihat bahwa masih ada permasalahan yang harus segera diselesaikan bersama yakni permasalahan birokrasi yang belum efisien, penyelesaian regulasi tenaga kerja, perpajakan yang belum menentu, kesiapan infrastruktur yang belum ada dan sumber pembiayaan yang masih sulit.
(qom/nrl)











































