Bank Kecil di Bawah Lindungan Bank Asing

Bank Kecil di Bawah Lindungan Bank Asing

- detikFinance
Selasa, 12 Des 2006 11:06 WIB
Jakarta - Menjelang tutup tahun 2006, bank skala kecil dan bersifat lokal ramai-ramai mencari perlindungan bank asing untuk tetap bisa mengikuti peta Arsitektur Perbankan Indonesia (API) 2010.Tidak tanggung-tanggung, bank-bank kecil ini menggandeng bank asing dari mancanegara yang diharapkan bisa segera menyuntik modal dan melakukan alih teknologi.Tercatat nama Rabobank dari Belanda, ACOM Co.Ltd dan The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd dari Jepang, Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) dari Cina, State Bank of India dan Bank of India (BoI) dari India, dan Bank Commonwealth dari Australia.Pengamat perbankan Fendi Susiyanto menilai, meskipun bank asing ini hanya membeli bank kecil, namun itu merupakan langkah strategis untuk bisa masuk ke pasar perbankan di Indonesia."Kalau ada pilihan, tentu mereka ingin membeli bank besar, tapi yang tersedia bank kecil, dan ini dianggap sebagai modus entry untuk masuk, karena prospek perbankan di Indonesia masih sangat besar," kata Fendi ketika dihubungi detikcom, Selasa (12/12/2006).Buat bank-bank kecil, masuknya investor strategis merupakan penyelamat untuk melakukan konsolidasi seperti yang dianjurkan Bank Indonesia (BI)."Merger mereka agak susah karena sulit menggabungkan visi bisnis, akhirnya investor strategis menjadi pilihan yang tepat," kata Fendi.Saat ini Indonesia memiliki lebih dari 130 bank. Padahal yang ideal, menurut Fendi, bukan jumlah bank yang banyak, tapi lebih penting memperbanyak cabang bank untuk memperkuat industri perbankan nasional.Masuknya bank asing ini, menurut Fendi, tidak menjadi ancaman pemain asing yang lebih dulu menguasai bank-bank besar. Bank besar seperti Bank Central Asia (BCA) kini dimiliki Farralon, Bank Internasional Indonesia (BII) dan Bank Danamon Indonesia milik Temasek.Bank Lippo dan Bank Niaga milik pengusaha Malaysia Khazanah dan Commerce Asset Holding Berhard, Bank Permata milik Standard Chartered Bank dan PT Astra Internasional Tbk, Bank Bumiputera milik pengusaha Malaysia Tun Daim Zainuddin."Mereka punya segmen yang berbeda, jadi untuk saat ini tidak akan terjadi persaingan secara langsung," katanya.Fendi mengingatkan, BI harus mengawasi lebih ketat masuknya bank asing membeli bank lokal yang harus memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia. Bank asing diminta untuk berkomitmen membantu proses API dengan melakukan tambahan modal dan transfer teknologi."BI harus mengawasi perjanjian jual beli (SPA) dengan ketat. Jangan sampai yang masuk itu pedagang setelah untung mereka keluar dan menjual lagi banknya," tutur Fendi.Sejumlah bank kecil yang tahun ini melakukan aliansi stretegis adalah, Rabobank Group yang berkedudukan di Belanda membeli saham Bank Haga dan Bank Hagakita milik grup Djarum.ACOM Co.Ltd dan The Bank of Tokyo-Mitsubishi UFJ Ltd (BTMU) membeli 75,41 persen saham PT Bank Nusantara Parahyangan Tbk yang berbasis di Bandung.Industrial and Commercial Bank of China (ICBC) membeli saham Bank Halim Indonesia milik bos Gudang Garam Rahman Halim, yang berbasis di Surabaya.State Bank of India (SBI), juga telah masuk ke Indonesia dengan mengakuisisi saham Bank IndoMonex.Bank asal Australia, Commonwealth Bank sudah melakukan perjanjian jual beli saham dengan PT Bank Arta Niaga Kencana Tbk (Bank ANK) Bank of India (BoI) mengakuisisi 76 persen saham PT Bank Swadesi Tbk. (ir/sss)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads