Wawancara Khusus Dirut BNI (1)
Hentikan Pertentangan Soal SBI
Selasa, 26 Des 2006 10:12 WIB
Jakarta - Penempatan dana-dana perbankan di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) telah memicu kontroversi. Cibiran pun diberikan pada bank-bank yang dinilai lebih suka menangguk keuntungan dari penempatan dana di SBI ketimbang menyalurkannya ke sektor riil.Selain bank-bank BUMN, bank-bank pemerintah daerah pun tak mau ketinggalan menempatkan dananya di SBI. Total dana perbankan yang tersimpan di SBI selama tahun 2006 mencapai sekitar Rp 200 triliun.Wapres Jusuf Kalla pun dibuat geram karenanya. Wapres bahkan mengeluarkan ancaman akan memecat direksi bank-bank BUMN jika masih saja menempatkan dananya di SBI dan tidak menyalurkannya ke kredit.Namun sebenarnya, apa yang terjadi di dunia perbankan Indonesia. Mengapa mereka memilih menempatkan dananya di SBI ketimbang menyalurkannya ke sektor riil dll.Dirut BNI Sigit Pramono menegaskan, para bankir sebenarnya tidak pernah berniat untuk tidak menyalurkan kredit. Penempatan dana di SBI sebenarnya lebih bersifat temporer.Bagaimana tanggapan selengkapnya Dirut BNI, dan apa yang terjadi dengan kredit BNI tahun 2006 dan strateginya di tahun 2007?Berikut penuturan Sigit Pramono dalam wawancara khusus dengan detikcom di kantornya, Wisma BNI, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (22/12/2006) lalu. Bagaimana target kinerja BNI sampai akhir tahun 2006 ?Target penyaluran kredit kita tahun ini Rp 68,4 triliun. Jadi dari segi pertumbuhan kredit tidak tercapai, tapi dibanding Desember 2005 Rp 62,6 itu ada pertumbuhan. Pada tiga bulan terakhir ini kredit kita tumbuh lumayan besar dibanding bulan-bulan sebelumnya sehingga 2007 ini kami yakin lebih baik dari 2006. Bank-bank lain di korporasi juga ada pertumbuhan lebih tinggi. Jadi trennya sudah membaik untuk pertumbuhan kredit. Persoalannya adalah kalau ekonomi tidak tumbuh pihak yang ditanya dulu adalah bank. Padahal bankir tidak ada niat untuk tidak memberikan kredit, karena penempatan di kredit paling menguntungkan dibanding penempatan lain apalagi di SBI yang sifatnya temporer. Karena sejak dulu penempatan ke SBI supaya jangan ada dana yang menganggur dan dari sisi BI, itu digunakan sebagai instrumen kontrol moneter. Jadi tidak perlu dipertentangan walau faktanya penempatan di SBI cukup besar karena masih ada persoalan lain seperti hukum, perizinan dan ketenagakerjaan. Investor akan pilih negara yang kondisinya lebih baik bagi investasi. Kembali ke keadaan di BNI, kita optimistis pertumbuhan kredit kedepan akan lebih baik. Tahun 2007 lebih baik dari 2006 karena tahun 2006 ada masalah bawaan tingginya inflasi tahun 2005 sebesar 17 persen dan dipicu kenaikan BBM Oktober 2005. Sedangkan tahun 2007 kalau dilihat inflasi tahun 2006 hanya sekitar 6,3 persen berarti 2007 tidak ada masalah bawaan. Karena SBI kan dibuat berdasarkan ekspektasi inflasi dan terbukti dengan penurunan SBI di 9,75. Kemudian dari sisi perbankan umum, dua bank besar yang tinggat NPL tinggi yaitu Bank Mandiri dengan 26 persen dan BNI 16 persen. Kami sudah berhasil melakukan restrukturisasi kredit sehingga sampai akhir tahun ada perbaikan NPL di dua bank yang memberikan kontribusi tingginya NPL bank nasional. Kami BNI sampai akhir tahun bisa capai NPL 11 persen, dari Juni-September yang sekitar 16 persen. Sampai akhir 2007 kami proyeksikan bisa dibawah 10 persen antara 5 persen sampai 7,5 persen. Artinya, beban tidak menyalurkan kredit mulai ringan untuk bank besar ini. Karena peran dua bank ini lebih banyak memberikan kredit kepada korporasi. Untuk kredit infrastuktur, masalah jalan tol saya kira mulai dipecahkan, saya kira proyek jalan tol mulai bergulir. Proyek infrastruktur di tenaga listrik, kita di pipeline sudah ada rencana pemberian kredit yang 2007 bisa direalisasikan. Jadi ada dua segmen kita memberikan komitmen untuk membiayai, tapi kalau investor belum bergerak realisasinya juga tidak ada. Bahwa ada persoalan diperbankan saya akui, ada masalah NPL dan penyaluran kredit. Yang menjadi sorotan adalah kredit korporasi karena memiliki multiplier effect yang besar sekali dibanding kredit konsumer dan harapannya di dua bank besar ini. Jadi bisa dimaklumi wapres agak geram dengan keadaan yang tidak bergerak. Tapi persoalannya harus diatasi bersama di perbankan, sektor riil dan disisi kebijakan pemerintah masih perlu dibenahi seperti UU Ketenagakerjaan, perpajakan dan perizinan. Kalau kita sepakat mengunakan metode pertumbuhan ekonomi sama dengan c tambah i tambah g tambah x dikurang m, untuk c daya beli masyarakat masih rendah, i juga tidak bergerak direct maupun indirect, g realisasi pembelanjaan APBN juga masih rendah. BPD juga akhirnya tempatkan di SBI. Sekarang kredit korporasi untuk infrastruktur juga sepi sekali karena realisasi dari APBN masih baru rata-rata 34 persen. Target pertumbuhan kredit tahun 2007 ? Saya lihat secara individu bank-bank menargetkan 20 persen. Kalau kita perkirakan ekonomi tumbuh 6,5 persen, kalau pakai rule of thumb, kredit harus tumbuh 24 persen. Kalau bank mau pertahankan market share harus tumbuh segitu kalau tidak tergerus. Saya katakan secara nasional target pertumbuhan kredit sekitar 20 persen, BNI juga diatas 20 persen. Sektornya masih konsumer ? Dalam strategi kita konsumer tidak pernah mendominasi. Tapi habis krisis, pertumbuhan kita memang didorong konsumer.
(qom/ir)











































