AIA Luncurkan Unit Linked Syariah Back End Load

AIA Luncurkan Unit Linked Syariah Back End Load

- detikFinance
Rabu, 29 Agu 2007 12:51 WIB
Jakarta - PT Asuransi AIA Indonesia meluncurkan produk asuransi unit linked syariah pertama dengan konsep back end load. Produk ini merupakan produk syariah kedua yang diluncurkan Asuransi AIA.Menurut Head of Syariah AIA Indonesia Setyo Sarpinto, keunggulan produk unit linked syariah ini adalah dana nasabah yang dibelikan unit linked seluruhnya langsung diinvestasikan sejak hari pertama, atau disebut back end load.Berbeda dengan produk unit linked lain, dimana dana yang disetor langsung disetor untuk berbagai biaya asuransi atau front end load."Kalau asuransi lain untuk satu tahun pertama tidak ada investasi yang ditanamkan karena semuanya dipotong untuk biaya-biaya seperti komisi dll," kata Setyo dalam peluncuran produk di Gedung Bank Panin, Jakarta, Rabu (29/8/2007).Unit linked syariah bernama Asya Link ini akan mulai dipasarkan 3 September mendatang. Dana yang masuk akan diinvestasikan ke portofolio saham, obligasi, deposito dan reksa dana syariah."Untuk deposito porsinya 0-20%, obligasi syariah 30-70%, saham juga saham dengan obligasi, reksa dana 0-80%," jelasnya. Sampai setahun kedepan, ditargetkan dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp 1 miliar. Terkait masalah subprime mortgage di AS, AIA Indonesia memanfaatkannya dengan membeli obligasi dengan tenor yang lebih panjang."Kami memanfaatkan penurunan harga obligasi dan kenaikan yield obligasi dengan membeli obligasi-obligasi pemerintah dengan tenor yang lebih panjang, ada yang sampai 30 tahun," kata GM AIA Indonesia, Stephen Appleyard tanpa memberi perincian lebih lanjut.Sebanyak 95% portofolio investasi AIA berada di instrumen obligasi negara dan korporat yang lebih stabil. Sementara sisa 5 persennya berada di pasar saham. Stephen menambahkan, kemungkinan hal yang sama dilakukan oleh asuransi lain. Namun switching portofolio investasi kemungkinan tidak akan dilakukan besar-besaran."Karena cost switching-nya juga tinggi, dan portofolio tidak mungkin disimpan di satu tempat karena risikonya akan semakin besar," jelasnya. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads