Baru 3 Hari, Pesanan ORI Capai Rp 3,68 Triliun

Baru 3 Hari, Pesanan ORI Capai Rp 3,68 Triliun

- detikFinance
Kamis, 30 Agu 2007 09:04 WIB
Jakarta - Jumlah permintaan akan Obligasi Ritel Negara (ORI) seri 3 atau ORI003 dalam 3 hari penawarannya sudah mencapai Rp 3,68 triliun. Sejumlah bank sudah mendapat pesanan ORI melebihi kuotanya. Demikian disampaikan oleh Dirjen Pengelolaan Utang Departemen Keuangan Rahmat Waluyanto di sela-sela Rapat antara Menteri Keuangan dan Bank Indonesia dengan Panitia Anggaran DPR RI, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/8/2007) malam. "Sampai sore tadi permintaan sudah Rp 3,68 triliun, paling tidak ada 3 bank yang sudah melebihi kuotanya," jelasnya. Adapun 3 bank yang sudah melebih kuota tersebut untuk hasil sementara yakni Bank Mandiri, Bank Lippo dan Bank NISP. Masa penawaran ORI003 sudah dimulai sejak 27 Agustus sampai 7 September.Rahmat memperkirakan, jumlah permintaan masyarakat akan instrumen ORI 3 ini akan terus meningkat. "Inikan baru hari ketiga, nanti kita lihat sampai tanggal 7 September, biasanya 3-2 hari menjelang penutupan pertumbuhan permintaan itu lebih cepat," ujarnya.Respons yang luar biasa dari masyarakat itu, menurut Rahmat, menunjukkan bahwa pengertian masyarakat akan investasi yang menguntungkan pada ORI terus meningkat. Berbagai keuntungan bisa diraup masyarakat yang memiliki ORI."Yang pertama itu aman di tengah situasi seperti ini, investasi di ORI aman karena pemerintah akan membayar semua kewajiban, bunganya, jatuh temponya, itu semua dijamin oleh UU. Kalau taruh uang di bank kan yang dijamin hanya Rp 1 juta, kalau di ORI kan taruh Rp 3 miliar itu dijamin semua, kemudian kalau deposito itu kan tidak bisa dijual di pasar sekunder, kalau ORI bisa," paparnya. Untuk ORI 3 ini, pemerintah meminta para agen penjual instrumen tersebut untuk lebih menyebar ke berbagai propinsi di Indonesia sehingga masyarakat di daerah dapat memiliki instrumen tersebut. "Komposisi investor sudah beragam dari mulai ORI yang kedua dari Indonesia Timur sudah banyak, tapi memang Jawa masih memegang peranan karena memang di Jawa kan penduduknya banyak, income per kapita di pulau Jawa kan lebih tinggi dibandingkan di daerah," jelasnya.Namun investor dari Indonesia Timur seperti Maluku dan Irian sudah mulai muncul sejak penerbitanORI002."Kelihatannya semakin banyak prospeknya di luar Jawa tapi belum 50 persen, kan bertahap ya karena 80 persen penduduk Indonesia kan ada di Jawa," tuturnya. Jika permintaan masyarakat membludak, kata Rahmat, maka pemerintah akan menaikkan penyerapan (up sizing). "Tapi ada batas penyerapannya, batasnya adalah kemampuan pemerintah untuk mengelola tambahan utang itu, kalau memang ada kapasitasnya maka akan kita tambah, jadi pemerintah tetap akan memperhatikan permintaan dari masyarakat, mengenai kapasitas pemerintah kita lihat saja nanti," jelasnya. Untuk target penyerapan, Rahmat juga enggan menjawab karena inti tergantung permintaan masyarakat. "Kan itu tergantung demand dari masyarakat dan kita tidak tahu, yah semaksimal mungkin pemerintah bisa menyerap akan kita serap," tambahnya. (dnl/qom)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads