Kredit Rp 2.500 T Nganggur di Bank, Pengusaha Masih Ragu Tarik Utang

Kredit Rp 2.500 T Nganggur di Bank, Pengusaha Masih Ragu Tarik Utang

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 22 Des 2025 17:24 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) mengungkapkan alasan kredit nganggur yang belum disalurkan perbankan (undisbursed loan) sampai menyentuh Rp 2.509,4 triliun per November 2025. Angka itu telah naik dalam beberapa bulan terakhir.

Kepala Departemen Kebijakan Makroprudensial BI, Solikin M Juhro, mengatakan pertumbuhan undisbursed loan dikarenakan banyak pengusaha masih wait and see mencermati kondisi ekonomi sehingga cenderung menunda untuk menarik kredit.

"Mereka masih, 'wah ini ekonominya benar menggeliat nggak', mereka masih wait and see," kata Solikin dalam Taklimat Media di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu, pengusaha kemungkinan berpandangan bahwa suku bunga kredit masih tinggi. Penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat yaitu 24 bps dari 9,20% pada awal 2025, menjadi 8,96% pada November 2025.

ADVERTISEMENT

"Juga mereka, 'waduh saya masih punya simpanan internal atau dana internal. Daripada saya ngambil ke bank, mendingan saya pakai duit saya sendiri'. Kenapa? Karena mungkin bisa saja, oh yield atau suku bunganya masih tinggi," imbuhnya.

Tidak hanya dari sektor korporasi, permintaan kredit dari sisi rumah tangga juga diakui ada pengereman. Hal ini dikarenakan ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang belum kuat.

"Dia 'wah nanti aku ambil kredit, penghasilan saya naik nggak', gitu. Nah ternyata memang dari sisi ini belum kuat, nggak menggeliat, gitu. Jadi mereka juga akhirnya ngerem," imbuhnya.

(aid/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads