Pemangkasan outlook peringkat kredit Indonesia dari stabil menjadi negatif oleh Moody's Investors Service menimbulkan efek rambatan terhadap lima bank besar Tanah Air. Sama seperti Indonesia, outlook lima bank ini turut dipangkas dari stabil menjadi negatif.
Lima bank terdampak pemangkasan outlook ini mencakup PT Bank Mandiri Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI), PT Bank Central Asia Tbk (BCA), dan PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN).
Menanggapi hal ini, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan permasalahan penurunan outlook ini dapat diatasi dengan penjelasan yang memadai dari masing-masing perbankan kepada lembaga pemeringkat internasional tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau itu kan nanti perlu penjelasan dari masing-masing perbankan kepada Moody's. Karena semua rating agency itu kuncinya juga perlu dijelaskan apa yang menjadi concern mereka dan concern itu tentu perlu diberikan jawaban yang memadai," kata Airlangga saat ditemui wartawan di acara APEC Business Advisory Council (ABAC) Meeting I 2026, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).
Airlangga menekankan secara nasional peringkat kredit Indonesia masih berada pada level investment grade. Sebab Moody's masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 atau satu tingkat di atas batas investment grade.
"Tentu kalau korporat kan masing-masing korporat yang respons. Kemudian kalau dari segi nasional Moody's tetap Indonesia di dalam investment grid, hanya outlook itu sesuatu yang mereka khawatir. Nah kekhawatiran itu yang perlu dijawab," ucapnya.
"Tetapi dari segi pemerintah fiskal kita commit untuk budget deficit maksimum 3% dan loan to PDB itu sekitar di bawah 40%, nah itu secara makro kita jaga," sambung Airlangga.
Dalam laporannya, Moody's juga menyampaikan pentingnya menjaga prediktabilitas pengambilan kebijakan, komunikasi publik, dan kualitas koordinasi antarkementerian/lembaga di tengah perubahan kebijakan dan tata kelola pengelolaan perekonomian yang sedang berjalan.
Moody's juga menyoroti pentingnya memperkuat basis penerimaan negara untuk mendukung belanja-belanja prioritas dan menopang pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi. Merespons hal tersebut, Airlangga juga meminta Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara Indonesia) untuk menjelaskan kepastian arah fiskal Indonesia ke lembaga pemeringkat Moody's.
"Ya artinya ketidakpastian itu kan membutuhkan penjelasan, jadi dijelaskan saja karena tahun ini tentu ada perbedaan di dalam anggaran terutama terkait dengan investasi karena dividen dan yang lain kan sekarang semuanya masuk di Danantara dan Danantara memerankan fungsi juga untuk investasi, nah ini yang perlu penjelasan," tegasnya.
(igo/ara)










































