Purbaya Kejar Setoran Pajak: Perlu Extra Effort, Sampai Sakit-sakit

Purbaya Kejar Setoran Pajak: Perlu Extra Effort, Sampai Sakit-sakit

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 09 Feb 2026 15:36 WIB
Purbaya Kejar Setoran Pajak: Perlu Extra Effort, Sampai Sakit-sakit
Foto: Anisa Indraini/detikcom
Jakarta -

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku tidak mudah meningkatkan rasio pajak (tax ratio) terhadap produk domestik bruto (PDB) dari 9,31% di 2025 menjadi kisaran 11-12% pada 2026. Dibutuhkan upaya ekstra di lintas sektor hingga dirinya sampai sakit-sakit.

"Kalau kita bisa naikkan level sekarang menuju 11-12% itu sudah aman sekali, tetapi biasanya memang nggak gampang, perlu extra effort. Makanya sampai sakit-sakit nih, nanti kita beresin," kata Purbaya di kawasan Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (9/2/2026).

Untuk mengejar target tax ratio tanpa harus menaikkan tarif pajak, Purbaya mengatakan cara pertama yang akan dilakukan adalah mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan begitu ia menganggap kecenderungan masyarakat untuk membayar pajak akan tinggi karena pendapatannya otomatis naik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Jadi yang pertama, ekonominya tumbuh lebih cepat. Sekarang sudah lumayan tuh," ucap Purbaya.

ADVERTISEMENT

Cara kedua ialah dengan memperbaiki kemampuan pengumpulan penerimaan negara di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) maupun Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Perbaikan ini dilakukan dengan mencegah kebocoran karena masih maraknya praktik kongkalikong antara wajib pajak dengan petugas pajak maupun bea cukai.

"Minggu lalu kan pajak kita ganti orang-orangnya, sebelumnya bea cukai. sekarang kita gunakan coretax yang lebih efektif. Kita tidak akan membiarkan lagi penggelapan pajak atau kongkalikong antara petugas pajak dengan para pelaku usaha," tuturnya.

Terakhir ialah dengan memperkuat penggunaan teknologi digital dari sisi pengawasan maupun administrasi layanan pajak maupun bea cukai.

"Kita juga menerapkan AI untuk mendeteksi under-invoicing. Sudah ketahuan tuh yang saya pernah sebut, ekspor CPO (minyak kelapa sawit), banyak sekali yang ketahuan under-invoicing. harganya dimurahin di sini, di luar negeri sana dijualnya lebih tinggi, dua kali lipat. Nanti akan kita kejar," tegas Purbaya.

(aid/fdl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads