×
Ad

Jumlah ATM di RI Berkurang Terus, Apa Sebabnya?

Retno Ayuningrum - detikFinance
Selasa, 10 Mar 2026 16:03 WIB
Foto: Retno Ayuningrum
Jakarta -

Center of Economic and Law Studies (CELIOS) menilai mesin anjungan tunai mandiri (ATM) dan kantor bank banyak yang tumbang tak lepas dari perubahan pola konsumsi finansial masyarakat. Menurut Direktur Ekonomi Celios Nailul Huda, pola konsumsi finansial masyarakat sudah berubah drastis.

Nailul mencontohkan jika dulu orang rela berlari tengah malam ke ATM demi membayar tiket kereta buat Lebaran. Saat ini, pelunasannya tidak perlu lagi pergi ke ATM dan bisa dilakukan melalui ponsel.

"Kalau dulu kita meng-war tiket kereta Lebaran ya itu jam 12 malam kita harus ke ATM untuk bayar tiketnya. Itu sekarang tidak lagi karena ada online banking sama mobile apps. Dan ini menurunkan dari jumlah mesin ATM yang ada di Indonesia, yang beroperasi di Indonesia," ujar Nailul dalam Digital Banking dan Economic Outlook 2026 di Kantor Amar Bank, Jakarta Selatan, Selasa (10/3/2026).

Pada 2026, pihaknya memprediksi pembayaran digital akan terus naik hingga menyentuh angka Rp 4 triliun. Tak hanya pembayaran, pinjaman online (pinjol) dan transaksi di bank digital juga diprediksi tetap mengalami kenaikan.

Di bank digital, Huda memprediksi terjadi pertumbuhan transaksi sebesar 10% di tengah berbagai macam gejolak dan ketidakpastian global. Hal ini tak lepas dari perkembangan teknologi yang semakin canggih.

Nailul menyebut transisi dari layanan fisik seperti kantor cabang, ATM, hingga contact center menuju online banking dan mobile apps terjadi sangat masif. Teknologi memudahkan masyarakat bertransaksi secara daring tanpa harus keluar rumah.

"Nah ini sangat terlihat juga jumlah dari kantor bank secara umum itu mengalami penurunan yang cukup tajam dan juga jumlah mesin ATM juga mengalami penurunan yang cukup tajam di rentang waktu di tahun 2018 sampai tahun 2025," imbuh ia.

Tak hanya itu, ia juga melihat pertumbuhan akun elektronik semakin meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan kartu kredit maupun kartu debit.

"Nah kalau kita lihat rata-rata pertumbuhan transaksi, kalau kita lihat kartu uang elektronik maupun server base itu mengalami kenaikan Compound Annual Growth Rate (CAGR)-nya sekitar 88 persen. Tapi kalau kita lihat kartu kredit itu cuma 7,4 persen, kartu debit cuma 6,38 persen. Ini kita mengalami perubahan pola konsumsi finansial," jelasnya.

Dari laporan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia mencapai 89.774 hingga kuartal III-2025. Jumlah ini menurun dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebanyak 91.173.

Hal ini berarti, ada 1.399 unit mesin ATM yang tutup dalam setahun. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, tren penurunan jumlah mesin ATM ini diprediksi terus berlanjut.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork