12 Negara Terdesak, IMF Siap Kucurkan Utang, RI Masuk Daftar?

12 Negara Terdesak, IMF Siap Kucurkan Utang, RI Masuk Daftar?

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 17 Apr 2026 11:02 WIB
The Fed Diperkirakan Naikkan Suku Bunga 3 Kali Tahun 2016
Ilustrasi/Foto: CNBC
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkapkan sedikitnya 12 negara akan mencari pinjaman baru untuk meredam lonjakan harga energi dan gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Kondisi itu menandakan tekanan krisis global semakin dalam terutama bagi negara berkembang.

Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, mengatakan dampak perang dapat memicu pinjaman baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar atau setara Rp 343 triliun hingga Rp 859 triliun (kurs Rp 17.181/US$).

"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan dukungan keuangan baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar yang dapat mencakup pinjaman baru maupun tambahan dari program yang sudah berjalan," ujar Georgieva dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Georgieva menyebut beberapa negara Afrika sub-Sahara telah mulai meminta bantuan. Hanya saja ia tidak menyebutkan secara rinci negara-negara mana yang meminta bantuan tersebut.

Khusus Mesir, IMF mengaku saat ini belum membahas tambahan program pinjaman senilai US$ 8 miliar meskipun perang telah berdampak pada perekonomiannya.

ADVERTISEMENT

Kepala Strategi IMF, Christian Mummsen mengatakan angka kebutuhan pinjaman tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi meningkat setelah dilakukan pertemuan bilateral dengan pejabat keuangan dari negara-negara anggota IMF.

"Ini masih bersifat sementara. Kami masih melakukan evaluasi," tutur Mummsen.

IMF memperingatkan bahwa dampak perang tidak akan mereda dalam waktu dekat, bahkan jika konflik berakhir cepat. Salah satu faktor utamanya adalah terganggunya jalur distribusi energi akibat penutupan Selat Hormuz.

"Kita perlu bersiap bahwa dampak gangguan pasokan dalam beberapa minggu mendatang akan lebih dalam," imbuhnya.

Akibat itu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan berada di level 3,1% pada 2026, turun 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Inflasi global juga diperkirakan akan meningkat menjadi 4,4% tahun ini.

Dalam skenario yang lebih parah jika konflik AS-Iran berlangsung lama, IMF memperkirakan harga minyak dan gas alam bisa mencapai US$ 100 per barel. Jika demikian, pertumbuhan ekonomi global diperkirakan hanya akan mencapai 2,5% tahun ini.

"Dalam skenario terburuknya, konflik yang lebih dalam dan lama bisa membuat pertumbuhan ekonomi global turun menjadi 2% hingga ke ambang resesi global," imbuhnya.

RI Tak Termasuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia tidak membutuhkan bantuan pendanaan dari IMF saat ini. Bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diklaim masih kuat dengan kepemilikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun.

Pernyataan itu disampaikan usai bertemu Managing Director IMF Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (14/6). Awalnya Purbaya bertanya apakah ada kebijakan khusus untuk membantu negara mengurangi ketidakpastian global, IMF menjawab tidak memiliki kewenangan itu dan hanya menyediakan dana bantuan untuk negara-negara membutuhkan.

"Mereka menyediakan dana bantuan untuk negara-negara yang membutuhkan. Tentu saja Indonesia tidak membutuhkan karena anggaran kita cukup baik dan kita masih punya bantalan yang cukup besar yaitu Rp 420 triliun yang saya bilang sebelumnya," ucap Purbaya dalam pernyataan resmi.

(aid/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads