Bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (The Fed), kembali menahan suku bunga acuan di level 3,50-3,75%. Keputusan ini diambil di tengah perbedaan pendapat di antara anggota dewan The Fed.
Dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) yang berlangsung pada Rabu (29/4) waktu setempat, para pejabat bank sentral AS banyak berselisih pendapat terkait dampak kebijakan dari inflasi yang terus-menerus.
Sebanyak delapan anggota, termasuk Jerome Powell yang hingga kini masih menjabat sebagai ketua The Fed, mendukung arah kebijakan untuk mempertahankan suku bunga dengan memberi sinyal pelonggaran (easing).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trump Ancam Pecat Bos The Fed Jerome Powell |
Perbedaan Pendapat
Keputusan tersebut sesuai dengan prediksi pasar, yang memperkirakan The Fed tidak mengubah suku bunga acuan bulan ini. Sementara empat anggota menyatakan beda pendapat dengan posisi yang tidak seragam.
Dengan hasil ini, suara anggota FOMC terbelah menjadi 8-4, di mana para pejabat memiliki alasan berbeda atas pilihan mereka. Tingkat perbedaan pendapat ini merupakan yang tertinggi sejak 1992.
"Inflasi masih tinggi, sebagian mencerminkan kenaikan harga energi global baru-baru ini," tulis The Fed dalam pernyataannya terkait suku bunga acuan, dikutip dari CNBC, Kamis (30/4/2026).
Inflasi AS
Sebagai catatan, inflasi AS jauh di atas target The Fed, yakni 2%. Kondisi ini utamanya terjadi karena kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden AS Donald Trump dan lonjakan harga energi imbas perang di Timur Tengah.
Biasanya para pejabat The Fed akan mengabaikan guncangan harga sementara dari kedua faktor tersebut karena lonjakan seperti ini hanya bersifat sementara. Namun, kali ini durasi lonjakan harga yang berlarut-larut itu menimbulkan kekhawatiran tentang dampak jangka panjangnya terhadap konsumen.
Di sisi lain, mandat ganda The Fed, terkait pasar tenaga kerja mulai mereda. Jumlah pekerja di luar sektor pertanian AS pada Maret kemarin naik 178.000, lebih baik dari perkiraan. Sementara tingkat pengangguran turun ke 4,3%.
Untuk April, ADP melaporkan pertumbuhan jumlah pekerja swasta mingguan rata-rata sekitar 40.000, menunjukkan pasar kerja masih sehat meski tidak terlalu kuat.
(igo/ara)










































