BI Rate Berpeluang Turun
Selasa, 06 Nov 2007 16:25 WIB
Jakarta - Meskipun kondisi perekonomian diperkirakan masih bergejolak, namun Bank Indonesia (BI) melihat masih terbuka ruang untuk menurunkan BI Rate. "Penurunan ruang BI Rate masih terbuka, dilihat dari faktor interest rate differential Indonesia dengan negara lain yang menunjukkan masih ada room," kata Direktur Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter Made Sukada usai rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia di Gedung BI, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Selasa (6/11/2007).BI dalam RDG hari ini memutuskan menahan BI Rate di kisaran 8,25%. Hingga akhir tahun, BI masih menyisakan sekali lagi RDG.Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo mengatakan, langkah BI untuk mempertahankan BI Rate cukup bijaksana karena gejolak dunia masih belum menentu. "Tapi 8,25% itu masih tergolong paling rendah. Sampai akhir tahun saya kira bisa turun 25 basis poin lagi," ujarnya. Terkait kenaikan harga minyak, menurut Sukada, ada kajian dari sebuah lembaga internasional yang mengatakan harga migas akan cenderung turun lagi karena permintaan dunia terhadap migas yang turun menyusul turunnya pertumbuhan ekonomi dunia.Kecenderungan itu akan semakin memberikan peluang bagi BI untuk menurunkan suku bunga. Dari sisi inflasi, BI yakin target inflasi tahun ini sebesar 6 plus minus 1 % tetap akan tercapai. "BI yakin target inflasi 6 plus minus 1 % tidak terganggu, atau kasarnya dibawah 7%. Untuk tahun 2008, kita lihat seberapa besar kenaikan harga minyak terus berlangsung," ujar Sukada.Kredit Tumbuh 21,5%Untuk perkembangan kredit, sampai September yang telah disalurkan mencapai Rp 975 triliun atau tumbuh 21,5%. "Untuk bulan Oktober, ada tambahan penyaluran kredit baru 18,8 triliun," jelas Sukada.Terkait cadangan devisa, BI meyakini angkanya bisa tembus hingga US$ 55 miliar jika aliran modal terus masuk. Per akhir Oktober, cadangan devisa Indonesia sudah mencapai US$ 54,2 miliar, atau setara dengan 5,5 bulan kali impor.
(qom/ir)











































