BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp 18.000

BI Ungkap Biang Kerok Rupiah Jeblok ke Rp 18.000

Heri Purnomo - detikFinance
Kamis, 04 Jun 2026 13:41 WIB
Karyawan menghitung uang pecahan Rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata uang asing Dolar Asia, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Ilustrasi uang Dolar AS dan Rupiah. Foto: Gilang Faturahman/detikFoto
Jakarta -

Nilai tukar Dolar Amerika Serikat (AS) semakin menguat terhadap rupiah. Bahkan kini mata uang negeri Paman Sam itu sudah menembus level Rp 18.000.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menyampaikan pelemahan nilai tukar Rupiah yang terjadi saat ini masih dipengaruhi oleh meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah yang kembali memanas. Kondisi ini mendorong harga minyak tetap tinggi dan meningkatkan risiko inflasi global serta arus dana keluar dari negara emerging.

Dari sisi domestik, menurutnya permintaan Dolar masih besar digunakan untuk repatriasi dividen dan juga pembayaran utang luar negeri.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Selain itu kebutuhan domestik masih cukup besar sesuai dengan pola repatriasi dividen dan pembayaran Utang Luar Negeri (ULN)," ujar Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (4/6/2026).

ADVERTISEMENT

Destry juga menyampaikan pelemahan yang terjadi pada mata Rupiah ini juga dialami oleh mata uang negara lainnya yang berada di kawasan.

"Secara umum, pelemahan Rupiah juga masih sejalan dengan regional, secara YTD melemah 7,44%. Cadangan devisa tetap terjaga di level US$ 146,2 miliar pada akhir April 2026," ujar Destry.

Upaya BI Kuatkan Rupiah

Dia menyampaikan BI akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.

Selain itu, BI akan memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market untuk tetap menarik aliran modal masuk ke instrumen aset domestik.

"Intervensi yang berkesinambungan akan terus dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, disertai dengan pembelian SBN di pasar sekunder. Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi dan pelaku pasar lainnya terus dilakukan secara intensif," papar Destry.

Selain itu, Destry menyampaikan BI juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam kerja sama bilateral melalui skema Local Currency Transaction (LCT) sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap Dolar AS dan memitigasi risiko volatilitas nilai tukar. Hal ini telah terjadi dalam kerja sama dengan China, Jepang, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.

Dia menyampaikan diversifikasi transaksi perdagangan melalui skema LCT ini terus mengalami peningkatan di bulan April mencapai sekitar US$ 22,7 miliar, sementara itu secara setahun penuh tahun lalu diversifikasi transaksi perdagangan dengan mata uang lokal hanya sekitar US$ 25,7 miliar.

Tonton juga video "Rupiah Ambyar! Dolar AS Sempat Tembus Rp 18.000"

(hrp/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads