Mayoritas Perbankan Masih Enggan Lirik Kredit Rumah Murah

Mayoritas Perbankan Masih Enggan Lirik Kredit Rumah Murah

- detikFinance
Sabtu, 17 Nov 2007 18:01 WIB
Cipanas - Mayoritas bank-bank besar saat ini masih belum memberikan perhatian kepada proyek-proyek perumahan murah. Kebanyakan lebih memilih mengucurkan kredit untuk rumah-rumah menengah ke atas.

"Sektor KPR kurang diminati oleh bank-bank lain, karena memiliki risiko tinggi, dan bisa menaikkan npl. Kebanyakan bank lebih tertarik masuk ke sektor kredit perumahan yang nilainya di atas Rp 300 jutaan," kata Kabag Penelitian BTN, Sasmaya Tuhulele.

Hal tersebut disampaikannya dalam acara Business Talk bertajuk 'Mencari Format Kebijakan Pemerintah dalam Pembiayaan Perumahan Rakyat', di Hotel Yasmin, Cipanas, Sabtu (17/11/2007).

Dengan kendala tersebut, maka megaproyek pemerintah membangun ratusan ribu unit perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan juga rusun murah bisa terhalang. Selain masalah pembiayaan, program tersebut juga terkendala masalah perizinan.

"Hambatan utamanya adalah kita bentrok dengan pemda, karena untuk perizinannya itukan membutuhkan perda," kata Deputi Bidang Pembiayaan Kementerian Negara Perumahan Rakyat, Iskandar Saleh.

Khusus untuk masalah pembiayaan, dalam program rumah susun (rusun) 1.000 tower, saat ini masih menunggu kredit dari Bank Dunia senilai Rp 5 Triliun, yang akan dikucurkan melalui BTN.

"Dana tersebut akan digunakan untuk mendanai proyek 1.000 tower. Namun, kucuran dana itu baru turun antara 3-6 bulan lagi," kata Iskandar.

Sasmaya menambahkan, selama ini, program perumahan rakyat baik itu KPR maupun rusun 1.000 tower, kurang mendapat perhatian dari bank-bank selain BTN.

"Sejak 2005-2006, dari 33 bank yang commit, kenyataannya 96% pembiayaan masih terletak pada BTN," ungkapnya.

Sementara, pemerintah memiliki program mendesak membangun 11,6 juta unit rumah bagi MBR. Saat ini, lebih dari 85% penduduk Indonesia berpenghasilan dibawah Rp 2,5 juta per bulan. Untuk mengatasi hal tersebut, kata Iskandar, pemerintah perlu menyosialisasikan problem-problem tersebut ke perbankan di Indonesia.

"Kita tidak bisa push bank-bank itu untuk masuk ke sektor ini, yang bisa kita lakukan adalah mensosialisasikan permasalahan-permasalan yang kita punya, agar mereka terdorong untuk ikut serta," kata Iskandar.

Sementara target penyaluran KPR dari BTN 2007 adalah Rp 7,8 T, yang sudah terrealisasi sekitar Rp 6,3 T atau 85 persennya. BTN menargetkan tahun depan bisa menyalurkan KPR hingga Rp 9,4 T.

(dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads