Cadangan Devisa Tinggi Bukan Jaminan Perekonomian Membaik

Cadangan Devisa Tinggi Bukan Jaminan Perekonomian Membaik

- detikFinance
Rabu, 28 Nov 2007 09:05 WIB
Jakarta - Cadangan devisa Indonesia kini mencatat angka tertinggi dalam sejarah Indonesia, yaitu US$ 54,1 Miliar. Namun, cadangan devisa yang tinggi tersebut, bukan jaminan membaiknya kondisi perekonomian Indonesia.

Demikian disampaikan penasihat ekonomi kepresidenan, Syahrir, dalam presentasinya dalam acara yang diadakan oleh HSBC, bertajuk "Economic Outlook: Prospects of 2008: Are We Confidence?", di hotel Four Season, Jakarta, Selasa (27/11/2007) malam.

"Cadangan devisa tinggi saat ini, tidak bisa dijadikan indikator membaiknya perekonomian kita. Alasannya, hal itu dipicu oleh masuknya modal asing dalam jumlah yang dominan. Jadi jika tiba-tiba terjadi capital flight, sangat berbahaya bagi keseimbangan ekonomi kita," kata Syahrir.

Demikian pula dengan peningkatan kapitalisasi kapitalisasi pasar di BEJ yang tumbuh luar biasa. Pada tahun 2002, kapitalisasi pasar di BEJ sekitar Rp 300 Triliunan, namun hingga 21 November 2007 sudah mencapai Rp 1.300 triliunan.

"Jadi ada peningkatan hampir mencapai 600%," kata Syahrir.

Hal itu cukup berbahaya, sebagaimana dihimbau oleh pengamat ekonomi UI, Faisal Basri. Ia mengatakan saat ini IHSG mencetak rekor baru, namun tidak diiringi dengan perbaikan fundamental.

"Artinya, modal lebih banyak bergerak di pasar sekunder. Namun, yang menjadi pertanyaan, modal siapa yang bergerak, domestik atau asing?" tanya Faisal.

Berdasarkan hasil riset per Mei 2007, porsi investor lokal individual hanya 4,87%, sedangkan korporasi domestik  memegang 19,56%. Asing menjadi yang paling dominan yaitu 67,11%.

"Itu data per mei 2007. Hingga November 2007, perkiraan sementara mengatakan porsi asing sudah mencapai 74%. Jadi hal ini perlu diwaspadai, terutama dalam memperkirakan kondisi perekonomian di tahun 2008," kata Faisal mendukung pernyataan Syahrir. (dro/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads