Neraca Pembayaran RI Defisit US$ 900 Juta, Ini Penyebabnya

Neraca Pembayaran RI Defisit US$ 900 Juta, Ini Penyebabnya

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 21 Agu 2026 13:36 WIB
Ilustrasi Bank Indonesia, lgo bank indonesia, bi, gedung bank indonesia di Jakarta
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) menyampaikan kinerja neraca pembayaran Indonesia (NPI) pada triwulan-II 2026 tercatat masih defisit US$ 900 juta. Posisi ini jauh lebih kecil dibandingkan dengan defisit pada triwulan-I 2026 sebesar US$ 9,1 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso menilai kinerja NPI pada triwulan-II 2026 tetap terjaga di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Menurutnya, transaksi berjalan mencatatkan defisit disebabkan oleh kenaikan defisit neraca perdagangan migas serta penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas.

"Transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi didorong kenaikan defisit neraca perdagangan migas dan penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas," ujar Ramdan dalam keterangan tertulis, Jumat (21/8/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, transaksi modal dan finansial mencatat surplus karena ditopang oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga mendukung kinerja NPI yang tetap terjaga.

ADVERTISEMENT

Posisi cadangan devisa pada akhir Juni 2026 tetap terjaga sebesar US$ 145,6 miliar atau setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Posisi cadangan devisa tersebut berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Ia menjelaskan transaksi berjalan mencatat defisit yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer. Defisit neraca perdagangan migas meningkat akibat kenaikan impor minyak sejalan tingginya harga minyak dunia.

Sementara itu, surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk kebutuhan kegiatan ekonomi dalam negeri yang masih tinggi. Selain itu, defisit neraca pendapatan primer meningkat sejalan dengan pembayaran pendapatan primer sedangkan surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan capaian pada triwulan-I 2026.

"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada triwulan-II 2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau setara 3,3% dari PDB, melebar dibandingkan dengan defisit pada triwulan sebelumnya sebesar US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB," tambahnya.

Ramdan membeberkan transaksi modal dan finansial mencatat surplus didukung oleh peningkatan aliran masuk investasi langsung dan investasi portofolio sehingga dapat menopang NPI. Investasi langsung mencatat surplus yang lebih tinggi dibandingkan dengan surplus pada triwulan sebelumnya dipengaruhi oleh terjaganya persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian dan iklim investasi domestik.

Lalu, investasi portofolio juga mencatat surplus yang meningkat seiring kenaikan imbal hasil instrumen keuangan domestik. Sementara itu, investasi lainnya mencatat defisit yang lebih rendah. Dengan perkembangan tersebut, transaksi modal dan finansial mencatat surplus US$ sebesar 12,0 miliar pada triwulan-II 2026, setelah pada triwulan-I 2026 mengalami defisit sebesar US$ 4,8 miliar.

Ramdan memastikan ke depan, prospek NPI diprakirakan tetap baik sehingga mendukung ketahanan eksternal. Defisit transaksi berjalan diprakirakan lebih rendah didukung perbaikan prospek ekspor sejalan kenaikan harga komoditas global, termasuk harga komoditas unggulan ekspor Indonesia, dan dampak positif penurunan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS).

Kemudian, transaksi modal dan finansial diprakirakan tetap surplus ditopang oleh berlanjutnya aliran masuk modal asing seiring imbal hasil instrumen keuangan domestik yang menarik dan prospek ekonomi Indonesia yang positif.

"Selain itu, sinergi kebijakan Pemerintah dan Bank Indonesia juga terus diperkuat untuk menopang kinerja NPI 2026 di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi," imbuhnya.

(rea/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads