Demikian 'Laporan Neraca Pembayaran Indonesia' yang dirilis BI, seperti dikutip detikFinance, Senin (10/12/2007).
Dalam laporan itu disebutkan, NPI hingga akhir 2007 diperkirakan mengalami surplus hingga US$ 13,6 miliar, atau lebih besar dari proyeksi sebelumnya yang hanya US$ 11,5 miliar.
Surplus transaksi berjalan diperkirakan memberi kontribusi yang lebih tinggi, terutama karena kenaikan ekspor nonmigas yang kendati melambat, namun masih dapat mengimbangi kenaikan impor nonmigas.
Kenaikan harga minyak diperkirakan belum mampu meningkatkan sumbangan sektor migas terhadap surplus NPI karena selama tahun 2007 terjadi penurunan produksi migas dalam jumlah yang signifikan. Padahal impor minyak justru meningkat seiring kenaikan konsumsi BBM.
Transaksi modal dan keuangan diperkirakan juga memberikan kontribusi positif terhadap NPI berupa surplus US$ 5,6 miliar, atau lebih tinggi dari tahun 2006. Hal itu terutama dipicu oleh kenaikan arus masuk modal portofolio yang ditopang oleh selisih suku bunga yang menarik dan kestabilan makro ekonomi yang terjaga.
Namun meningkatnya porsi utang jangka pendek mendorong kenaikan kerentanan NPI terhadap risiko gejolak eksternal dan perubahan sentimen investor.
Sejalan dengan kenaikan surplus NPI, maka cadangan devisa diperkirakan meningkat menjadi US$ 57,3 miliar hingga akhir 2007. Jumlah itu setara dengan 5,7 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah.
Per akhir November 2007, jumlah cadangan devisa sudah mencapai US$ 54,9 miliar. Sementara hingga akhir 2006, cadangan devisa sebesar US$ 42,6 miliar.
Untuk tahun 2008, surplus NPI diperkirakan lebih besar mencapai US$ 15,6 miliar. Sehingga cadangan devisa pun diperkirakan meningkat menjadi US$ 72,9 miliar pada akhir 2008, atau setara dengan 6,4 kali impor dan pembayaran utang luar negeri.
(qom/ir)











































