×
Ad

67 Juta Warga RI Pakai QRIS, Uang Tunai Mulai Ditinggalkan?

Andi Hidayat - detikFinance
Jumat, 25 Sep 2026 05:55 WIB
Ilustrasi penggunaan QRIS. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Penggunaan QRIS yang semakin luas mulai berdampak pada pertumbuhan uang kartal di Indonesia. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang kertas dan logam melambat seiring kenaikan jumlah pengguna QRIS yang kini mencapai 67 juta orang.

Jumlah sebesar itu artinya sudah menyentuh seperempat dari total penduduk Indonesia. Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan uang kartal kini lebih banyak digunakan di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pasalnya, akses internet dan sinyal di wilayah tersebut masih terbatas sehingga masyarakat belum sepenuhnya bisa menggunakan layanan QRIS.

"Kalau kita lihat, memang masih tumbuh tapi mulai terus melambat. Kenapa? Karena Indonesia ini kan sangat luas. Dan wilayahnya kan sangat pulau-pulau kita ada daerah-daerah yang terdepan, terluar gitu kan. Tentunya ini kan mereka juga masih butuh uang-uang cash. Mungkin juga ada, mungkin sinyal masih belum semuanya kan juga masih ada beberapa yang di blank spot," ungkap Destry di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026).

Destry menyebut tren pembayaran saat ini semakin bergeser ke sistem digital melalui QRIS. Peralihan tersebut turut membuat penggunaan uang kartal semakin terbatas.

"QRIS kalau kita lihat sekarang penggunanya sudah 67 juta. Artinya sudah seperempat dari penduduk Indonesia yang menggunakan QRIS. Jadi tentu saja kalau kita lihat, karena banyak menggunakan sistem digital, sehingga penggunaan cash kan terbatas. Nah, jadi kita bisa lihat di beberapa event kalau kita sekarang belanja di pasar itu mereka lebih suka pakai QRIS kan ketimbang menggunakan cash," kata Destry.

Meski begitu, Destry menekankan uang kartal masih sah sebagai alat transaksi. Dia juga meminta seluruh pelaku usaha untuk tetap menerima pembayaran dengan uang kertas maupun logam.

"Kita tetap tidak melarang orang kalau menggunakan cash, karena tetap bahwa payment di kita ini kan ada digital atau melalui cash. Jadi, buat para merchant juga walaupun ada yang memang mereka ingin bayar cash ya mereka harus bisa menerima. Tapi faktanya preferensi masyarakat memang sekarang mengarah kepada digital payment," pungkas Destry.

Saksikan Live DetikPagi:




(ahi/hal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork