Menurut ekonom Chatib Basri dari LPEM UI, Gubernur BI yang baru harus melakukan reformasi internal untuk bisa mengembalikan kredibilitas institusi yang akhir-akhir ini diguncang isu yang tidak sedap. Tidak masalah calon berasal dari luar atau internal BI.
"Sistem organisasi BI adalah yang terbaik, peranan personal ada tetapi tidak terlalu utama, jadi calonnya dari kalangan dalam maupun dari luar tidak ada masalah. Kemapuan untuk mengantisipasi kebijakan moneter bisa dimiliki oleh siapa saja," ujarnya dalam public hearing sesi kedua di ruang rapat Komisi XI, DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (4/3/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mewakili impian dari anggota kami yang mewakili kepentingan perbankan di seluruh Indonesia yang menjadi anggota kami. Tentu ada kepentingan dari kelompok kami atas gubernur Bank Indonesia," katanya.
Selain itu kedua orang ini juga sepakat bahwa calon Gubernur BI harus mampu mengantisipasi, kebijakan moneter dan perkembangan ekonomi global, sektor riil dan kondisi politik.
Sigit enggan menyebutkan siapa yang paling berpeluang diantara kedua calon gubernur yang dipilih istana.
"Kami tidak akan menyebut suatu nama untuk menjaga integritas kami yakin hak tersebut ada di anggota DPR mengenai calon mana yang memenuhi kriteria," katanya.
Lain halnya dengan pengamat pasar modal Yanuar Rizky pengamat ekonomi, ia sangat lugas mengenai satu calon yakni Agus Martowardojo yang dinilainya masih memiliki masalah industrial dengan serikat pekerja dari Bank Mandiri.
"Yang dituntut masalah kesejahteran, yaitu pembagian prestasi kerja. Serikat Pekerja (SP) mempertanyakan soal itu, sehingga memicu demo. Ditindaki dengan PHK terhadap pengurus SP," ungkapnya.
Menurutnya sebelum adanya fit and proper test Agus Martowardojo harus bisa mengatasi pengadilan industrial terkait tuntutan dari Serikat Pekerja.
Namun ia juga memberikan beberapa catatan terkait calon gubernur BI itu yang dinilainya harus mumpuni. Menurutnya ada empat yang menjadi kreteria gubernur BI. Pertama, persepsi terhadap kebijakan moneter harus kuat dan wibawanya harus kuat juga.
"Sampai detik ini masih cukup lemah dan kharisma yang belum kuat dipasar," ujarnya.
Kedua, adalah bisa mempunyai kharisma di kalangan bankir. Ketiga, menguasai sistem pembayaran, termasuk transaksi treasury, transaksi pembayaran sektor riil yang semuanya memakai sistem pembayaran. Keempat memiliki kemampuan mengawasi dan menindak.
(hen/ddn)











































