Hal tersebut diungkapkan Deputi Gubernur BI Budi Mulya usai rapat dengan panitia anggaran di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (17/3/2008).
"Ini langkah yang baik, yang diambil oleh otoritas moneter menanggapi belum selesainya turbulensi ekonomi keuangan global. Kita berharap ini bagian dari langkah-langkah yang konsisten yang dilakukan the Fed. Dan juga yang pernah dilakukan oleh bank-bank sentral lain," ujarnya.
Bank Sentral AS (Federal Reserve/the Fed) pada minggu kemarin mengambil langkah darurat dengan memotong tongkat diskonto 25 basis poin menjadi 3,25%. The Fed juga menawarkan likuiditas langsung untuk sistem brokerage. Keputusan itu diambil ditengah keterpurukan pasar finansial yang dipicu oleh ambruknya raksasa finansial AS, Bear Stearns.
Pengumuman darurat itu diambil hanya dua hari menjelang rapat rutin Federal Open Market Committee (FOMC). Para analis memperkirakan the Fed akan menurunkan suku bunga kuncinya sebesar 50 basis poin dalam pertemuan itu.
"Kita lihat saja. Pasar kan sudah melakukan perkiraan itu akan dilakukan. Berapa besar itu bisa dilihat," ujar Budi saat ditanya mengenai proyeksi itu.
Yang pasti, BI akan terus mencermati kondisi perekonomian global untuk menentukan arah kebijakan moneter kedepannya.
"Apapun yang akan terjadi di perekonoian global, itu suatu pertimbangan terhadap perkembangan kebijakan moneter yang tidak bisa dipisahkan. Tapi utamanya, BI melihat kebijakan moneter melalui capaian inflasi dan ekspektasinya," katanya.
Namun BI melihat bahwa ekspektasi inflasi di tahun 2008 cukup tinggi. Untuk itu, diperlukan kerjasama yang baik antara BI dan pemerintah dalam menaklukkannya.
"Kita harus menjaga ekspektasi. 2008 memang tahun yang berat bagi BI dan pemerintah. Disinilah perlu koordinasi. Hari ini siapapun di perekonomian global tengah mencermati apa yang berlangsung di AS dan semua otoritas berupaya untuk memitigasi dampaknya. BI senantiasa monitor di pasar," pungkasnya.
(qom/ir)
