"Luar negeri lebih banyak memberikan pinjaman lunak (soft lending) yang persyaratannya tidak berat, sementara bank lokal untuk pinjaman Rp 5 sampai 10 miliar saja susah," ujarnya di sela 'Business Meeting Pembiayaan Perbankan pada Industri Pelayaran/Perkapalan' di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Senin (24/3/2008).
Bank lokal biasanya meminta jaminan (collateral) untuk pinjaman itu sebesar 100 persen. "Jadi bank lokal sangat tidak logis, kita minta bantulah dunia perkapalan ini," imbuhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bank asing tidak pernah meminta jaminan, kami hanya memberikan credit insurance saja sebagai syarat pinjaman," katanya.
Riry mengatakan pihaknya saat ini membutuhkan pinjaman sebesar US$ 100 juta sampai tahun 2009 untuk mengerjakan proyek-proyek pesanan kapalnya.
"Yang terjadi saat ini kita selalu dapatkan pinjaman dari bank luar negeri. Kami minta, tolonglah perbankan lokal bisa lebih fleksibel untuk mensupport industri ini dan berpikir seperti bank internasional," tuturnya.
Adapun saat ini memang perusahaan perkapalan/pelayaran Indonesia sedang membutuhkan armada baru yang sangat besar guna mendukung implementasi Inpres 5 Tahun 2005 dimana pada 2010 sudah tidak ada lagi kapal berbendera
asing yang beroperasi di wilayah Indonesia.
Saat ini masih ada sekitar 34,7 persen muatan angkutan laut dalam negeri yang masih dilakukan oleh armada berbendera asing. Selain itu share armada pelayaran nasional untuk muatan ekspor impor hanya berkisar 5,9 persen. (dnl/ddn)











































