Hal tersebut anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDIP Maruarar Sirait disela-sela pembukaan turnamen futsal di GOR Kodam V Brawijaya, Jalan Hayam Wuruk, Surabaya, Selasa (1/4/2008).
"Kita masih belum menolak pak Boediono. Kita masih mempertimbangkan karena informasi yang kita dengar, persoalan BLBI masih belum clear," ungkap Maruarar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Juga bagaimana kita mengkritisi apakah dia bisa independen terhadap pemerintah SBY karena juga keadaan global sangat tidak baik. Amerika diambang stagflasi, harga minyak naik terus, kita butuh orang yang siap pakai. Jadi kita akan mempelajari betul dan baru kita akan menyiapkan sikap," jelasnya.
Siapa saja calon yang layak di mata PDIP selain Boediono? Maruarar pun menyebutkan nama Menkeu Sri Mulyani dan Kepala BKF Anggito Abimanyu, dari kalangan pengamat Faisal Basri dan Rizal Ramli, dari internal BI Muliaman Hadad, Hartadi Sarwono dan Miranda Goeltom.
"Nama-nama itu menurut kami cukup bagus," katanya.
Yang pasti, Gubernur BI itu menurut Maruarar harus memiliki pengalaman di bidang moneter, akses ke pasar nasional dan internasional, indepenen dari pemerintah, siap pakai dan memiliki integritas serta lepas dari masalah hukum.
Terkait masukan dari berbagai kalangan yang diterima SBY akhir pekan lalu, Maruarar menyayangkan hanya beberapa saja yang dipanggil. Para pengamat yang memberi masukan menurut Maruarar lebih pro ke pemerintah.
"Pengamat-pengamat yang kritis tapi kredibel seperti Faisal Basri dan Rizal Ramli tidak diundang. Padahal pandangan mereka relatif sama dengan pandangan komisi XI. Dan komisi XI akhirnya menolak dan kemudian disetujui oleh paripurna. Jadi jangan pilih-pilih," ketusnya.
Menurut politisi muda ini, presiden SBY harus sebagai orang yang demokratis. Bisa mendengar dari berbagai kalangan, bukan hanya menyenangkan pemerintah SBY. Tapi juga yang punya pandangan lain untuk kebaikan bangsa dan negara.
(qom/ir)











































