BI Muluskan Keinginan Pemerintah Tahan BI Rate

BI Muluskan Keinginan Pemerintah Tahan BI Rate

- detikFinance
Kamis, 03 Apr 2008 15:09 WIB
Jakarta - Penahanan suku bunga BI Rate oleh Bank Indonesia dinilai sebagai langkah 'memuluskan' keinginan pemerintah supaya BI menahan suku bunga.

Hal tersebut disampaikan Anggota Komisi XI DPR, Dradjad Wibowo dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Kamis (3/4/2008).

"Kalau BI masih menahan BI rate, tampaknya lebih sebagai kompromi politik dengan keinginan pemerintah yang meminta suku bunga diturunkan," ujarnya

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dradjad menambahkan kalau melihat dolar AS yang terdepresiasi dimana-mana secara global, seharusnya nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 8.900-9.000 per dolar AS tapi rupiah justru melemah.

"Artinya, pasar tidak confidence terhadap stabilitas makro Indonesia, terutama stabilitas fiskalnya, sehingga pasar mengenakan risk premium yang sangat tinggi terhadap rupiah atau bond (obligasi) yang diterbitkan Indonesia," ujarnya.

Karena itu, jelasnya, diperlukan selisih suku bunga yang makin besar antara bunga dalam rupiah dengan bunga-bunga terhadap aset berdenominasi mata uang asing.

"Dengan situasi itu, BI rate memang harus ditahan pada 8% atau dinaikkan pelan-pelan sebesar 25 bps. Apalagi inflasi cenderung naik cukup tajam tahun 2008 ini dibanding targetnya," ujarnya.

Menkeu sebelumnya menyambut baik keputusan Bank Indonesia untuk menahan BI rate pada 8 persen. Faktor inflasi yang masih tinggi menjadi alasannya.

"Saya rasa tepat melihat respons terhadap pengumuman inflasi kemarin dan tentu saja pressure itu dianggap level yang harus diwaspadai," ujar Menkeu Sri Mulyani.

Inflasi hingga Maret 2008 sudah mencapai 3,41 persen sehingga menjadi alasan BI untuk menjaga suku bunga.

"BI dalam hal ini keputusan menjaga interest rate artinya potensi inflasi menjadi lebih penting diperhatikan sehingga mereka tidak menurunkan suku bunga," ujarnya.

Menurut Menko Perekonomian Boediono keputusan Bank Indonesia untuk dapat mempertahankan tingkat BI Rate di level 8 persen dilakukan karena situasi perekonomian yang belum stabil sebagai akibat ketidakpastian yang terjadi pada ekonomi global.

"Keputusan itu dibuat dengan memasukkan pertimbangan situasi ekonomi pada saat ini yang belum settle," ujarnya.

Bank Indonesia berpendapat perekonomian Indonesia masih akan menghadapi tantangan seiring dengan ketidakpastian yang menyelimuti perekonomian global.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2008 diperkirakan melambat dibandingkan tahun 2007, tekanan inflasi yang masih tinggi diperkirakan akan memperberat upaya pencapaian sasaran inflasi yang telah ditetapkan.

"Sedangkan nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan bergerak sesuai dengan perkembangan faktor fundamentalnya," tutur Deputi Gubernur Senior BI Miranda S. Goeltom.
(ddn/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads