"Kalau ditanyakan kenapa tidak 50 bps (kenaikkan BI rate), kami juga melihat, seperti yang saya sebutkan di atas, untuk tidak hanya menggunakan instrumen suku bunga sebaga satu-satunyanya alat untuk menahan laju inflasi, namun juga harus dibarengi dengan kebijakan lain," ungkap Deputi Gubernur BI Hartadi A. Sarwono dalam jumpa pers di Gedung BI, Jalan Thamrin, Jakarta, Kamis (5/6/2008).
Hartadi mengatakan harga komoditi khususnya minyak, tren kenaikannya sudah mulai mencapai puncaknya. "Harga minyak mulai terlihat tanda-tanda penurunan, namun masih bisa membawa atau memberikan tekanan inflasi 2008. Kedua, di dalam negeri masih ada tekanan inflasi inti, kita tahu perekonomian kita kuartal I-2008 masih tumbuh 6,3%, itu pertumbuhan yang sangat baik," paparnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Oleh karena itu kami juga melihat masih ada tekanan dari sisi demand yang masih baik. Dan biasanya kalau tidak dicukupi dengan suplai yang cukup, dapat menimbulkan tekanan inflasi. Karena itu kita melihat di satu sisi, kami menaikan 25 bps, untuk memberikan sinyal bahwa BI aware terhadap tekanan inflasi," jelasnya.
Alasan lain kenapa BI Rate tidak naik 50 bps, menurut Hartadi karena BI lebih suka memonitor kenaikan level BI rate secara gradual ketimbang langsung menaikkan sebanyak 50 bps, kalau kenaikkan itu memang masih diperlukan.
"Ini pun kalau dengan kenaikan gradual 25 bps, kami sudah melihat pasti satu tahun kemudian, pada Mei 2009, secara statistik inflasi sudah hampir pasti menurun kembali. Ditambah keberhasilan berbagai kebijakan pemerintah dan BI, saya kira kita akan bisa membawa tekanan inflasi 2009 kepada normal tab-nya, kami memperkirakan pada," urainya.
Dalam rapat dewan gubernur (RDG) BI Kamis ini, BI menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate dari 8,25 menjadi 8,5%. Sebelumnya banyak pihak berspekulasi BI akan menaikkan hingga 50 basis poin. (dnl/ir)











































