Biaya Utang Pemerintah Makin Mahal

Biaya Utang Pemerintah Makin Mahal

- detikFinance
Rabu, 11 Jun 2008 09:45 WIB
Biaya Utang Pemerintah Makin Mahal
Jakarta - Biaya utang pemerintah makin lama semakin mahal akibat masih guncangnya kondisi perekonomian global. Hal ini terlihat dari semakin tingginya permintaan yield (imbal hasil) dari investor pada setiap lelang Surat Utang Negara (SUN) yang dilakukan pemerintah.

Pada lelang SUN yang terdiri dari 3 seri kemarin (10/8/2008) yaitu FR0047, FR0048 dan FR0049, yield yang dimenangkan pemerintah cukup tinggi.

Untuk FR0047 yang bertenor 20 tahun, yield yang dimenangkan 13,59 persen dan untuk FR0048 yang bertenor 10 tahun yield yang dimenangkan 13,41 persen. Sedangkan untuk FR0049 yang bertenor 5 tahun tidak ada yang dimenangkan pemerintah karena permintaan yield investor sangat tinggi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dirjen Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan yield yang dimenangkan ini memang lebih tinggi dari lelang sebelumnya karena kondisi pasar sedang bearish.
Β 
"Pemicu kondisi ini adalah sentimen global yang besar karena sebagian besar investor SUN adalah asing jadi mereka terpengaruh," ujarnya ketika ditemui di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa malam (10/6/2008).

Rahmat mengatakan sentimen global yang terjadi antara lain adanya 7 investment bank di AS yang turun peringkatnya. "Lalu juga kemungkinan commercial bank di AS mengalami kerugian tinggi akibat subprime mortgage," katanya.

Selain itu kenaikan harga minyak dunia yang sempat naik sekitar US$ 12 per barel dalam waktu sehari juga mempengaruhi sentimen pasar obligasi yang berpengaruh juga pada Indonesia. "Sehingga investor meminta yield yang tinggi," imbuhnya.

Masih banyaknya kendala struktural di Indonesia seperti lifting minyak dan subsidi menjadi pertimbangan investor. "Memang sampai saat ini yield SUN meningkat secara tajam terutama untuk yang tenornya 5 tahun," ujarnya.

Situasi ini dikatakan Rahmat memperlihatkan investor memandang inflasi dalam jangka pendek di Indonesia masih akan meningkat tajam, sehingga permintaan yield untuk SUN bertenor 5 tahun sangat tinggi.

"Tapi untuk jangka pendek, investor melihat inflasi akan kembali terjaga, karena itu permintaan yield untuk SUN bertenor 10 sampai 20 tahun tidak tinggi," tuturnya.

(dnl/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads