Per Maret 2008 laba bersih tercatat Rp 14,9 miliar atau mengalami kenaikan hingga Rp 19,6 miliar dibanding periode yang sama tahun yang lalu dimana PermataBank Syariah masih rugi sebesar Rp 4,6 miliar.
Demikian disampaikan oleh Kepala Unit Usaha Syariah PermataBank Adrian A. Gunadi dalam acara konferensi pers di Kembang Goela, Jakarta, Kamis (12/6/2008).
Β
"Transformasi model bisnis yang telah kami lakukan selama ini dengan menggabungkan bisnis syariah dan infrastruktur, pengembangkan berbagai produk dan layanan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah mulai terlihat hasilnya. Demikian pula produk pembiayaan kami kembangkan melalui sinergi dengan produk konvensional sekaligus memanfaatkan jaringan cabang PermataBank yang telah dimiliki selama ini," ujarnya
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya kenaikan laba bersih ini ditopang oleh peningkatan pendapatan sejalan dengan peningkatan pembiayaan. Pendapatan operasional seperti margin murabahah (bagi hasil pembiayaan) tercatat Rp 17,2 miliar atau mengalami kenaikan hingga 272% dari Rp 4,6 miliar.
Sedangkan pendapatan operasional lainnya tercatat Rp 6,9 miliar atau mengalami pertumbuhan hingga 593% dari Rp 991 juta di bulan Maret 2007.
Ia menambahkan, peningkatan dalam hal pembiayaan terutama dikonstribusi oleh pembiayaan Murabahah (pembiayaan dalam bentuk akad jual beli/ piutang) sebesar Rp 581,5 miliar
Dari posisi yang sama tahun lalu sebesar Rp 129,6 miliar. Di triwulan pertama tahun 2008 PermataBank Syariah juga melakukan sindikasi pembiayaan kepada PT Indonesia Air Transport (IAT) dengan skema Ijarah (leasing).
Meskipun terjadi kenaikan dalam hal pembiayaan, non performing financing (NPF) PermataBank Syariah justru mengalami perbaikan. Pada bulan Maret 2008 NPF tercatat 5,9% atau mencatat perbaikan yang cukup baik yaitu 23,6% dibandngkan dengan tahun lalu.
Mengenai aset PermataBank Syariah, lanjut Gunadi, mengalami pertumbuhan yang cukup baik, per bulan Maret 2007 aset PermataBank Syariah baru mencapai Rp 322,4 miliar, saat ini telah mencapai Rp 958,2 miliar atau mengalami peningkatan sebesar 635,8 miliar atau 197%.
Sementara itu dari sisi penghimpunan dana juga menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Dana murah berupa Simpanan Wadiah (Giro) dan Tabungan Mudharabah masing-masing tercatat Rp 86,5 miliar dan Rp 67,4 miliar per posisi Maret 2008.
Β
Dana pihak ketiga ini tumbuh sebesar 519% dari semula Rp 13,9 miliar untuk Simpanan Wadiah (Giro) dan 88% dari semula Rp 35,8 miliar untuk Tabungan Mudharabah.
PermataBank Syariah pun mencatat posisi permodalan yang kuat pada akhir Maret 2008, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) sebesar 12,2%, jauh di atas ketentuan Bank Indonesia sebesar 8%. Begitu pula tingkat efisiensi yang ditunjukkan oleh BOPO yang dapat ditekan hingga 18,8% dari posisi semula 62,6% di bulan Maret 2007.
(hen/ddn)











































