Demikian dikatakan oleh Deputi Gubernur Bank Negara Malaysia (bank sentral Malaysia) Dato' Mohd Razif Abd Kadir dalam acara seminar Reits dan Sukuk, di Hotel Grand Hyatt, Jakarta, Rabu (2/7/2008).
"Kita memang sedang menggalakkan bank-bank kita yang besar go regional memang kita galakkan. Kita juga sedang menggalakkan bank-bank di Indonesia yang mantap," ungkapnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski mendorong bank Malaysia melakukan ekspansi, ada risiko yang akan dihadapi oleh perbankan asal Malaysia untuk berinvestasi di Indonesia seperti potensi tingginya inflasi. Ia mengatakan bahwa investor bank asal Malaysia diberikan kebebasan untuk menentukan sikap dalam menjalankan
bisnisnya.
"Dari segi operasi mereka bebas, itu terserah dari mereka seperti soal risk management, capital dalam keadaan cukup, mengenai negara mana yang cocok itu terserah kepada mereka, kita tidak campur tangan," jelasnya.
Ia juga mencontohkan upaya yang dilakukan oleh Maybank untuk melakukan akuisisi bank lokal di Indonesia, sepenuhnya diserahkan kepada pihak Maybank.
"Maybank mereka mau membesarkan operasi melalui take offer. Laporan Maybank mengenai akusisi selain BII, itu belum bisa kita siarkan, kita enggak boleh memberi maklumat soal bank-bank, harus tanya bank itu sendiri," kilahnya beralasan.
Ia menambahkan bahwa sekarang kondisi perbankan di Malaysia relatif stabil dengan potensi perbankan yang cukup kuat karena ditopang oleh bank-bank besar.
"NPL di Malaysia 3%, sekarang hanya ada 9 bank domestik di Malaysia dulu sebelum krisis ada 70 lebih, yang mantap ada 9, dulu memang kecil-kecil sekarang sudah tidak ada," jelasnya. (hen/ir)











































