Industri Tekstil, Kayu, Properti Masih Dijauhi Perbankan

Industri Tekstil, Kayu, Properti Masih Dijauhi Perbankan

- detikFinance
Selasa, 15 Jul 2008 07:25 WIB
Industri Tekstil, Kayu, Properti Masih Dijauhi Perbankan
Jakarta - Sektor-sektor industri yang dijauhi oleh perbankan selama triwulan II-2008 masih belum berubah. Perbankan masih menghindari sektor tekstil, kayu dan properti.

Perbankan menghindari sektor industri pengolahan seperti tekstil karena tingkat persaingan usaha dengan produk tekstil impor yang berasal dari China. Sementara industri pengolahan kayu dihindari karena terkait dengan upaya menghindari illegal logging.

"Sektor bangunan (properti) khususnya mal karena dinilai sudah over supply sehingga berisiko cukup tinggi," demikian data yang dikutip detikFinance, Selasa (15/7/2008).

Permintaan Kredit Baru Naik 92,5%


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Permintaan kredit baru selama triwulan II-2008 mencatat kenaikan dengan angka neto tertimbang sebesar 92,5%, atau berarti lebih tinggi dari kenaikan kredit baru para triwulan sebelumnya sebesar 70,4%.

"Peningkatan tersebut terutama didorong oleh tingginya kebutuhan nasabah terhadap pembiayaan usaha serta masih cukup baiknya prospek usaha nasabah," demikian data dari BI.

Permintaan kredit baru selama triwulan II-2008 didominasi oleh kredit modal kerja. Secara sektoral, permintaan kredit terbesar berasal dari sektor bangunan, diikuti dengan sektor jasa dunia usaha. Sementara itu, mayoritas permintaan terhadap kredit konsumsi berupa kredit kepemilikan rumah (KPR).

Khusus untuk kredit investasi, mayoritas responden menyatakan bahwa penyaluran kredit investasi pada triwulan II-2008 mengalami peningkatan, ditunjukkan dengan angka neto tertimbang 91,8%, lebih tinggi dibandingkan triwulan I-2008, sebesar 89,7%.

Dari seluruh permintaan kredit baru yang disetujui oleh bank, sebagian besar adalah dari kelompok nasabah lama (55,3%). Sementara itu, jumlah aplikasi permohonan kredit yang tidak disetujui oleh bank rata- rata sebanyak 20,0%, sedikit meningkat dibandingkan triwulan lalu sebesar 19,1%. (qom/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads