Kinerja tengah tahun ini terutama didorong oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 16% menjadi Rp 1,404 triliun dibandingkan dengan Rp 1,209 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur BII, Henry Ho dalam siaran pers yang diterima detikFinance, Minggu (27/7/2008).
"Meskipun kondisi ekonomi melemah dan perkiraan Produk Domestik Bruto menurun, kami mampu mempertahankan momentum melalui pertumbuhan bisnis inti yang sehat," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada saat ini kami memperkirakan harga minyak yang tinggi, tekanan inflasi dan melemahnya daya beli akan mempengaruhi ekonomi dan memberikan dampak serta tantangan di industri jasa keuangan pada semester kedua tahun ini," ujarnya.
Sementara itu kredit yang sudah disalurkan BII tumbuh sebesar 27 persen. Angka ini berarti telah melampaui pertumbuhan industri secara keseluruhan.
Dengan tetap fokus pada sektor bisnis utama, kredit UKM/Komersial dan kredit konsumer, mencatat pertumbuhan sebesar 45% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Kontribusi terbesar pada portofolio pinjaman tersebut masing-masing sebesar Rp 12,7 triliun dan Rp 10,9 triliun.
Kredit kendaraan bermotor naik 137% menjadi Rp 5,2 triliun, KPR naik 16% menjadi Rp 3,6 triliun serta tagihan kartu kredit, pendapatan dari pemegang kartu kredit dan jumlah merchant menunjukkan kemajuan yang berarti selama dua triwulan terakhir.
Rasio non performing loan (NPL net) turun dari 3,25% menjadi 2,49% terhadap total kredit.
Untuk pendapatan bunga bersih tumbuh 16% yang mencerminkan pertumbuhan kredit, spread antara bunga kredit dan deposito dapat dipertahankan di tengah persaingan yang ketat, ekspansi kredit naik dari 53% menjadi 63% dengan pemantauan ketat pada kualitas kredit.
Dibandingkan dengan tahun sebelumnya biaya naik 9%, sedangkan dibandingkan dengan triwulan sebelumnya hanya naik sebesar 2%, masih berada pada parameter yang ditargetkan selama tahun ini, atau tidak melebihi suku bunga inflasi.
Rasio cost to income pada semester pertama 2008 adalah sebesar 65,89%, sedikit naik dari 63,18% pada periode yang sama tahun 2007. "Kerugian sebesar Rp 53 miliar pada surat berharga mempengaruhi rasio ini," ujarnya.
(ddn/ddn)











































