Surplus Transaksi Berjalan RI Turun Jadi US$ 2,6 Miliar

Surplus Transaksi Berjalan RI Turun Jadi US$ 2,6 Miliar

- detikFinance
Kamis, 14 Agu 2008 10:45 WIB
Surplus Transaksi Berjalan RI Turun Jadi US$ 2,6 Miliar
Jakarta - Surplus transaksi berjalan pada triwulan II-2008 mengalami penurunan dibanding triwulan sebelumnya. Surplus pada triwulan II tercatat sebesar US$ 2,6 miliar sedangkan triwulan I-2008 surplus mencapai US$ 2,8 miliar.

Demikian seperti dilansir situs resmi Bank Indonesia (BI) yang dikutip detikFinance, Kamis (14/8/2008). Sehingga cadangan devisa akhir triwulan II-2008 menjadi US$ 59,5 miliar atau setara dengan 5,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah.

Penurunan surplus terjadi karena meningkatnya impor bahan baku dan barang modal untuk keperluan ekspor dan investasi yang meningkat seiring pertumbuhan ekonomi yang meningkat pula.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kenaikan nilai impor ini memang dalam jangka waktu pendek akan mengurangi surplus pada Neraca Pembayaran Indonesia (NPI). Namun ke depan, dengan mulai tumbuhnya perekonomian, perkembangan NPI pada tahun 2008 diharapkan tetap mencatat surplus yang tinggi.

Ditinjau dari neraca perdagangannya, kinerja ekspor nonmigas triwulan II-2008
diperkirakan masih tumbuh lebih tinggi dengan dukungan utama tetap berasal dari tingginya harga komoditas di pasar internasional.

Berdasarkan data periode Januari-Mei 2008, nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar US$ 44,6 miliar atau tumbuh 19,7% (yoy) dari periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, impor nonmigas periode Januari-Mei 2008 tercatat sebesar US$ 15,2 miliar atau tumbuh 44,8% (yoy) dengan komposisi pertumbuhan kelompok komoditas barang konsumsi, bahan baku, dan barang modal masing-masing sebesar 27,6%, 44,9%, dan 57,1% (yoy).

Pertumbuhan impor nonmigas diperkirakan akan berdampak positif bagi perekonomian domestik mengingat sejak awal tahun 2006 tren positif pertumbuhan impor terindikasi sejalan dengan pertumbuhan konsumsi dan investasi.

Di sektor migas, neraca perdagangan ditopang oleh tingginya nilai ekspor gas. Selama
Januari-April 2008, nilai ekspor minyak dan gas masing-masing tercatat sebesar US$ 5,4 miliar dan US$ 5,3 miliar atau masing-masing tumbuh sebesar 61,5% dan 59% dari periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan harga juga memicu pertumbuhan nilai impor minyak selama Januari-April 2008 yang cukup tinggi (59%, yoy), meskipun dari segi volume cenderung mengalami penurunan menyusul turunnya konsumsi domestik yang mengikuti pola musiman pada awal tahun.

Kembali melonjaknya harga minyak dunia selama triwulan II-2008 telah mengakibatkan disparitas harga antara BBM subsidi dengan BBM nonsubsidi kembali meningkat, bahkan telah menyamai kisaran sebelum kenaikan harga BBM pada tanggal 24 Mei 2008.

Bila hal tersebut terus berlanjut, defisit perdagangan minyak berpotensi membesar mengingat peningkatan disparitas harga selalu diikuti dengan peningkatan konsumsi domestik.

BI mencatat kinerja NPI pada triwulan II-2008 juga ditopang oleh penurunan defisit dalam transaksi modal dan finansial. Defisitnya kini mencapai US$ 49 juta.

Perbaikan kinerja transaksi modal dan finansial tersebut terutama berasal dari kontribusi penerbitan obligasi valas Pemerintah di luar negeri (global bond).

Perbaikan kinerja transaksi modal dan finansial terutama disumbang oleh penerbitan obligasi valas Pemerintah (INDO-14, INDO-18, dan INDO-38) pada tanggal 17 Juni 2008 dengan total sebesar USD2,2 miliar. Di tengah tingginya ketidakpastian pasar finansial global, penawaran obligasi valas ini terbilang cukup sukses ditandai dengan kelebihan permintaan (oversubscribe) yang mencapai US$ 6 miliar.

Hal tersebut mendorong prakiraan arus modal portofolio asing triwulan II-2008 yang lebih baik dari prakiraan semula.

Belum stabilnya pasar finansial global serta tekanan inflasi domestik yang tinggi sebagai
dampak kenaikan harga minyak membawa pengaruh pada minat investor asing terhadap aset domestik. (ddn/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads