"Kinerja agen penjual kurang, yang dilihat dari kecilnya jumlah pesanan ORI005 dalam 3 hari sampai Jumat kemarin," jelas Direktur Surat Berharga Negara Depkeu Bhimantara Widyajala di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (26/8/2008).
Menurut Bhimantara, selain faktor agen penjual yang kurang optimal, pesanan ORI juga dibuat seret oleh kondisi pasar termasuk adanya penawaran bunga deposito yang tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan pesanan ORI yang belum maksimal itu, pemerintah pada Jumat akhir pekan lalu mengirimkan surat satu per satu kepada agen penjual untuk mengingatkan target masing-masing termasuk perkembangannya.
"Nah, setelah kita kirim surat itu, sampai tanggal 25 malem kemarin, kenaikan jumlah pemesanan biasanya Rp 300 miliar sudah menjadi Rp 500 miliar. Jadi kita harapkan ada multiplier effect dari situ," tambah Bhimantara.
Beberapa agen penjual yang mencatat perolehan pesanan ORI cukup besar antara lain:
- BCA dari target RP 700 miliar sudah mencapai 469,575 miliar atau 67%
- Danareksa dari jatah Rp 250 miliar sudah mencapai Rp 133,225 miliar (53,29%)
- Mandiri dari jatah Rp 750 miliar tercapai Rp 388,51 miliar (51,8%)
- BNI dari jatah Rp 850 miliar tercapai Rp 392,695 miliar (46,2%).
Sementara agen panjual paling rendah adalah:
- Bank Danamon dari jatah Rp 400 miliar, baru tercapai Rp 5,49 miliar (1,373%),
- Bank Mega dari jatah Rp 200 miliar baru tercapai RP 6,6 miliar (3,31%),
- HSBC dari jatah Rp 250 miliar baru tercapai Rp 11,56 miliar (4,624%).
"Kita terus pantau kinerja agen penjual karena ORI005 bisa jadi instrumen alternatif, dan kita minta agen penjual termasuk bank memberi penjelasan yang sebenar-benarnya kepada nasabah," pungkas Bhimantara. (qom/ir)










































