Angka-angka 15%, 20%, 25% bahkan 30% tersebut terlihat sangat fantastis akan tetapi tidak banyak dari investor yang bisa mempertahankan hasil investasi rata-ratanya di atas 20% apabila di luar negeri dan 25% di Indonesia.
Salah satu contoh, di luar negeri seperti di AS seorang investor kawakan dan guru bagi banyak investor lain di bursa dan salah satu top 10 orang kaya di dunia yaitu Warren Buffet hanya “mampu” mendapatkan hasil investasi rata-rata untuk portfolio perusahaannya, Bershire Hathaway sebesar 23% per tahun sejak tahun 1965.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak bisa dipungkiri Bursa Efek Indonesia (BEI) tempat kita berinvestasi saham di Indonesia memang cukup volatile alias naik turun sangat cepat seperti roller coaster. Banyaknya dana-dana asing yang mencari keuntungan sesaat di bursa Indonesia membuat bursa rentan terhadap pelarian dana kembali ke luar negeri.
Sedangkan komposisi trader alias pedagang saham di Indonesia dibandingkan dengan investor masih jauh lebih banyak pedagang. Menyebabkan bursa semakin volatile, karena banyaknya jumlah transaksi jual-beli dibandingkan beli-tahan untuk jangka panjang.
So, apabila anda seorang pedagang, alias hidup atau melakukan transaksi saham jual-beli secara rutin maka rules no. 1 yang harus selalu diingat adalah JANGAN SERAKAH. Buatlah target hasil investasi atau return yang diinginkan.
Segera ketika anda mencapai target tersebut lalu keluarlah. Keserakahan selalu mencoba menahan anda untuk tetap bertahan di suatu emiten saham karena anda berpikir harganya akan naik lebih tinggi lagi. Buatlah batas toleransi kerugian misalkan 1% atau 5% dari investasi anda sebelum anda keluar (cut loss). Lakukan disiplin ini secara rutin niscaya investasi anda akan memberikan total hasil investasi yang memuaskan.
Dalam tulisan berikutnya kita akan lihat bagaimana fenomena “mendadak jago” akan mempengaruhi investasi kita.
(ang/ang)











































