Mau Pensiun Kapan? (2)

Mau Pensiun Kapan? (2)

Aidil Akbar Madjid - detikFinance
Senin, 11 Nov 2013 07:35 WIB
Mau Pensiun Kapan? (2)
Jakarta - Menyambung dari tulisan sebelumnya, fakta mengejutkan bahwa masih banyak orang Indonesia yang tidak mempersiapkan masa pensiun mereka dengan baik.

Banyak juga orang Indonesia yang menggantungkan pensiun mereka dari Dana Pensiun yang mereka dapatkan dari kantor atau tempat mereka bekerja.

Sayangnya, jarang dari mereka yang pernah melakukan perhitungan secara rinci apakah dana tersebut cukup atau tidak. Mereka baru terkaget-kaget ketika menghitung dana pensiun mereka ketika masuk MPP, dan menyadari bahwa dana pensiun yang dikumpulkan selama ini ternyata kurang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain survey yang sudah dibahas di tulisan sebelumnya, fakta menarik lain dari survey Life Outlook Index adalah sebagian besar orang Indonesia tidak mau menurunkan standar hidup mereka untuk mempersiapkan program pensiun.

Padahal dari data yang sama juga didapatkan data bahwa dari fakta kehidupan di usia 60 tahun di Indonesia hanya 1% saja yang berada di dalam kondisi kaya raya di usia 60 tahun, 4% mandiri secara keuangan, 5% masih harus bekerja kembali, 12% di antaranya harus menurunkan gaya hidup mereka, 29% di usia ini meninggal dunia, dan 49% masih harus bergantung hidup dengan orang lain. Nah, anda mau masuk kategori yang mana?

Sebenarnya jika kita berkaca pada kondisi di atas, kita harusnya sudah bisa bersiap-siap menghadapi kenyataan akan datangnya masa pensiun itu. Karir boleh sekali menjadi tujuan ketika kita bekerja, tetapi memiliki kehidupan yang setidaknya sama ketika kita berkarir di masa pensiun juga dambaan kita kan?

Alangkah baiknya, di masa awal kita bekerja, kita sudah mempersiapkan sedari awal, baik itu dari segi asuransi, dana darurat dan tentunya dana pensiun itu sendiri. Karena masa pensiun bukan hanya masalah materi yang harus tercukupi tetapi kondisi psikis yang harus dipersiapkan.

Untuk kebutuhan materi di masa pensiun, setidaknya ada beberapa macam produk investasi yang bisa dipilih untuk memenuhi kebutuhan tersebut, di antaranya adalah properti, saham dan reksa dana campuran atau saham.

Karena biasanya mempersiapkan dana pensiun adalah tujuan keuangan jangka panjang, di atas 10-20 tahun, maka produk investasi seperti disebutkan tadi memiliki karakter yang pas untuk itu.

Dana pensiun yang kita butuhkan sendiri sebenarnya sangat banyak (tidak sedikit) jumlahnya. Jelas saja besar jumlahnya, karena sebagai contoh kalau untuk biaya hidup kita saat sebesar Rp 5 juta/bulan, sementara usia masih 30 tahun, dengan inflasi 12% per tahun, maka 25 tahun lagi akan dibutuhkan dana sebesar Rp 85 juta/bulan atau sekitar Rp 1,02 miliar per tahun.

Kalau harapan hidup kita bisa sampai 20 tahun, maka kita akan membutuhkan sekurang-kurangnya Rp 20 miliar lebih untuk pensiun (belum termasuk memperhitungkan inflasi setelah masa pensiun). Besar kan?

Selain itu, produk dana pensiun bentukan seperti DPLK, DPKK dan JAMSOSTEK yang biasanya didapat di kantor kita bekerja bisa digunakan sebagai pelengkap dana pensiun nanti, ingat untuk dicek dan dihitung kembali manfaat yang didapat ya, walaupun dilihat dari hasil investasi dari ketiganya tidak terlalu besar tetapi setidaknya ada dana yang bisa kita nikmati di masa pensiun secara rutin dari produk investasi ini.

Di lain kesempatan saya akan membahas sedikit tentang produk DPLK ini baik kelebihan dan kelemahannya terutama tentang jumlah dana pensiun yang didapatkan ketika pensiun yang ternyata dalam nominal tertentu tidak dapat ditarik semua secara tunai.

Berarti, selagi masih di masa produktif dan punya waktu yang cukup, mulalilah dari sekarang juga ambil keputusan untuk mempersiapkan kehidupan di masa pensiun. Jika merasa kesulitan dalam menghitung dan mempersiapkannya, menggunakan jasa financial planner independent profesional merupakan pilihan yang tepat agar tujuan keuangan kita dapat tercapai.

So, mau pensiun kapan?

(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads