Begini Cara Atur Keuangan Untuk Karyawan Bergaji Rp 3 Juta/Bulan

Annisa Sagita, Annissa Sagita - detikFinance
Selasa, 17 Mar 2015 08:04 WIB
Jakarta -

Pertanyaan dari Pembaca: Perkenalkan saya MS, 24 tahun, fresh graduate dari Universitas ternama di Yogyakarta, dan saat ini tengah bekerja di perusahaan konsultan kelapa sawit di Jakarta Selatan.

Penghasilan saya kurang lebih mencapai Rp 2,7 juta-Rp 3 juta untuk saat ini setelah 3 bulan bekerja (saya masih fresh graduate), dengan pengeluaran rata-rata Rp 1,8 juta sampai Rp 2 juta tiap bulan.

Biaya cukup besar saya akui berasal dari sewa indekos yang cukup layak, sebesar Rp 700.000 per bulan all-in tidak ada tambahan. Tabungan saya saat ini mencapai Rp 4,4 juta, dan jujur saya merasa sedikit kesulitan dan bingung mengenai perencanaan keuangan saya, akan saya bagi menjadi beberapa poin:

  1. Saya berencana mengikuti seminar karir dan pengembangan diri seharga Rp 4,5 juta, di mana dengan membayar sebanyak itu saya mendapat social-circle dari beberapa pakar, upgrading mindset dan habbit yang akan berguna di karir dan kehidupan saya kelak, serta lifetime membership untuk kelompok kelompok diskusi kecil per wilayah jakarta. Kesulitan saya adalah, kapan kira-kira waktu yang tepat untuk mengikuti seminar tersebut dengan rentang penghasilan saya yang demikian serta jumlah tabungan saya yang sebesar itu.
  2. Saya memang belum memiliki istri/pasangan, namun saya tengah dekat dengan seseorang, saya ingin mengalokasikan sedikit uang untuk biaya kencan dengan pasangan saya, namun pengeluaran tidak bersifat boros, berapakah kira-kira perhitungan pengeluarannya?
  3. Adakah saran investasi yang tepat untuk karyawan seperti saya ?
  4. Jika boleh diutarakan, ada keinginginan terpendam seperti ingin beli tanah buat rumah dan laptop. Bagaimana perencanaan keuangannya dan butuh berapa lama saya mengumpulkan uang hingga saya dapat mencapai hal tersebut?

Terima kasih atas bantuannya

Jawaban:
Terima kasih atas pertanyaan Anda yang sangat terstruktur. Saya apresiasi keinginan yang kuat dari diri anda untuk tidak cepat puas, atas apa yang telah dicapai serta dimiliki sampai dengan saat ini.

Sebagai seseorang yang masih tergolong fresh graduate, dalam memulai tahapan yang baru sebagai pekerja, memang pada umumnya akan memiliki penghasilan kurang lebih sebesar (atau sedikit di atas) upah minimum di suatu daerah atau provinsi. Lagi-lagi semuanya akan bergantung pada posisi serta tempat seseorang bekerja.

Pengeluaran rutin yang anda lakukan tiap bulannya sebesar Rp 2 juta, secara persentase telah menghabiskan di atas 60% dari penghasilan yang anda miliki (asumsi menggunakan angka penghasilan sebesar Rp 3 juta).

Kalau mau menggunakan proporsi yang lebih ideal, memang sebaiknya anda dapat membagi penghasilan anda ke dalam beberapa pos pengeluaran rutin, seperti zakat atau berderma sebesar 5%, menabung atau berinvestasi sebesar 15%, cicilan utang (jika ada) maksimal 30%, sehingga konsumsi setidaknya menjadi 50% dari penghasilan anda.

Dengan status anda yang berdomisili jauh dari tempat bekerja anda, maka otomatis secara signifikan juga akan cukup mempengaruhi pengeluaran bulanan yang ada, namun hal tersebut bukanlah sesuatu yang tidak bisa disiasati.

Keinginan anda untuk mengikuti seminar pengembangan diri merupakan salah satu wujud nyata dari diri anda untuk tidak tinggal diam, dan menerima begitu saja atas apa yang telah dihasilkan saat ini.

Dengan tabungan yang telah anda miliki Rp 4,4 juta dan kebutuhan investasi untuk mengikuti seminar Rp 4,5 juta, maka secara nominal seharusnya memang anda dapat mengikuti seminar tersebut setidaknya (paling lama) sampai dengan anda menerima gaji mendatang.

Namun, sebaiknya anda mengevaluasi terlebih dulu tabungan yang anda miliki sebesar Rp 4,4 juta tersebut, apakah seluruhnya memang sudah dialokasikan untuk mengikuti seminar, atau Rp 4,4 juta tersebut merupakan aset kas keseluruhan yang Anda punya?

Hal ini perlu dianalisa lebih lanjut, karena dengan status Anda yang masih lajang setidaknya anda harus memiliki minimal dana darurat sebesar 3 kali pengeluaran rutin anda, atau sebesar Rp 6 juta.

Dana darurat merupakan pos wajib yang harus dimiliki oleh setiap orang untuk menghadapi situasi darurat yang memang tidak bisa diprediksi. Namun, apabila anda telah memiliki setidaknya 30% dari total keseluruhan dana darurat yang dibutuhkan (berarti 30% x Rp 6 juta = Rp 1,8 juta), maka anda telah dapat membagi penghasilan anda ke pos selain dana darurat, salah satunya adalah berinvestasi dan mengikuti seminar atau workshop yang dapat menjadi nilai tambah bagi anda ke depannya juga merupakan investasi pada diri sendiri yang cukup penting.

Merencanakan keuangan bukan berarti melarang atau mengabaikan kebutuhan akan hiburan atau entertainment. Selama pos-pos pengeluaran yang ada telah terbagi dengan proporsional, maka anda dapat menggunakan kelebihan dana bulanan yang ada untuk memenuhi kebutuhan ini.

Dalam persentase di luar konsumsi rutin bulanan yang anda sebutkan, kami asumsikan anda tidak memiliki cicilan utang. Oleh karenanya, dalam kasus anda, persentase dalam berutang ini yang anda dapat manfaatkan untuk memenuhi kebutuhan di luar kebutuhan primer.

Ke depannya, pasti siapa pun mendambakan untuk memiliki aset yang lebih besar lagi, seperti dalam bentuk rumah tinggal ataupun aset produktif lainnya. Saat ini, saya sarankan anda untuk mulai mencari tahu, mempelajari, serta pada akhirnya mendisiplinkan diri terlebih dahulu dalam berinvestasi dari hal yang terkecil dan relatif tidak memerlukan banyak dana, seperti misalnya berinvestasi pada reksa dana atau mencoba berinvestasi pada logam mulia dengan pecahan yang paling terjangkau untuk Anda.

Nantinya, jika Anda telah menuai hasil dari kedisiplinan yang anda lakukan, maka jangan terkejut jika keinginan-keinginan anda bukan lagi menjadi mimpi.

Semoga menjawab pertanyaan Anda.

(ang/dnl)